Tampilkan postingan dengan label catatan agus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan agus. Tampilkan semua postingan

19 Agustus 2008

Tubuh Kami Diri Kami

Oleh Agus Triyatno

Di Koran Tempo yang terbit tanggal 10 Agustus 2008 terdapat sebuah artikel tentang tubuh yang menjadi komoditas. Banyak orang terkejut ketika mengetahui bahwa sekarang ini seperlima genome (blue-print, kode genetik makhluk hidup) manusia telah dipatenkan, sebagian besar oleh perusahaan-perusahaan swasta. Tapi mengapa kaget?

Tubuh wanita telah digunakan untuk menjual segala macam komoditas, mulai dari mobil sampai musik pop. Sementara pria juga dijadikan obyek kepemilikan dan perdagangan sebagai budak. Para wanita pada umumnya lebih banyak diperlakukan sebagai komoditas di negara-negara yang tidak mengenal perbudakan. Sekali seorang wanita telah mengikat “kontrak” perkawinan, artinya ia tak berhak lagi menolak hubungan seksual – selamanya.

Pada tahun 1960-an, kaum feminis menciptakan slogan “Tubuh Kami, Diri Kami.” Hal ini mungkin akibat dari kekecewaan terhadap ideal sosial yang berarti kita telah berpaling ke dalam diri kita sendiri. Tanpa kepercayaan akan kehidupan yang abadi, semuanya tercurah ke dalam kehidupan yang ada sekarang, dalam tubuh yang ada sekarang.

Tubuh sepertinya bukan lagi menjadi sesuatu yang sakral sekarang ini. Tubuh menjadi milik pribadi individu yang memiliki hak penuh untuk menggunakannya. Apakah tubuh itu mau dioperasi plastik, dicangkok, atau bahkan sebagian organnya dijual hanya untuk mendapatkan uang. Tak ada yang melarang untuk itu.

Pemikiran di atas nampak berbeda ketika saya membaca kisah seorang perempuan. Dia pun mengaku telah merasakan kenikmatan berhubungan badan tanpa ikatan pernikahan. Pada awalnya dia menuntut pasangannya untuk menikahi dirinya. Pasangannya pun menyanggupi. Tapi setelah ada kepastian dari pasangannya untuk menikahi perempuan ini, justru penolakan menikah datang dari sang perempuan. Menurut sang perempuan, pasangannya begitu kuat mengajak menikah karena bentuk tanggungjawab atas apa yang pernah dilakukannya. Tapi tetap saja sang perempuan menolak. Bagi sang perempuan, dia sudah ikhlas menerima kenyataan bahwa dirinya sudah dijamah oleh pria yang bukan suaminya & saat ini ingin bertobat.

Alasan penolakan sang perempuan adalah menikah baginya sebagai urusan ibadah kepada Allah SWT. Bukan hanya sekedar sex semata. Alasan lainnya adalah sang perempuan tidak memungkiri bahwa dirinya telah sakit hati dengan orangtua dari pasangannya. Setelah membaca kisah sang perempuan ini saya pun mencoba membuat kesimpulan. Terdapat sikap yang bertentangan dari sang perempuan. Ajakan menikah dari pasangannya karena ingin bertanggunjawab atas perbuatannya dianggap sebagai motif nafsu syahwat semata. Sedangkan yang diinginkan adalah menikah sebagai ibadah kepada Allah SWT. Tapi di sisi lain, sang perempuan memendam kebencian kepada orangtua pasangannya sehingga menolak menikah. Jadi, penolakan menikahnya bukan murni karena ingin beribadah kepada Allah SWT, melainkan karena kebencian kepada orangtua pasangannya. Suatu sikap yang bertolak belakang (paradoks).

Bagi pasangannya yang juga memiliki & berkuasa atas tubuhnya itu memiliki pandangan berbeda. Tubuhnya merasa sudah dijamah sang perempuan dan sikapnya adalah bersama sang perempuan bertanggungjawab. Tapi, sang perempuan tidak mempedulikan itu. Sang perempuan tidak bertanggungjawab atas tubuh lain diluar tubuhnya sendiri. Yang dipikirkan sang perempuan hanya tubuhnya sendiri. Apa yang terbaik bagi tubuhnya dan tidak ada urusan terhadap tubuh orang lain.

Apapun itu, saya telah mengetahui bahwa tubuh bisa saja menjadi komoditas / modal ekonomi yang dimiliki seseorang. Tapi, tubuh juga bisa menjadi bukan milik dirinya sendiri melainkan milik Allah SWT sehingga apapun yang telah terjadi pada tubuh ini sikap ikhlas dan pasrah dijalaninya. Namun, ada kesamaannya, yaitu semua yang dilakukan itu berdasarkan atas mementingkan diri / tubuhnya sendiri meskipun sikap yang diambil bertolak belakang. “Tubuh Kami, Diri Kami” nampak relevan.

Ini rahasia. Sssttt...jangan bilang siapa-siapa ya! WOW!!

15 Agustus 2008

Komunikasi dan Silaturahim

Oleh Agus Triyatno

Komunikasi secara umum banyak didefinisikan atau ditafsirkan dalam perspektif transmisi. Dalam persepektif transmisi ini komunikasi disebut sebagai proses penyampaian pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan. Oleh karena itu, ada tiga unsur yang terkait di sini, yaitu orang yang memberikan pesan (sender), pesan yang disampaikan (encode & decode), orang yang menerima pesan (receiver).

Setiap orang diberikan kemampuan untuk bisa berkomunikasi. Paling banyak dilakukan adalah komunikasi dengan bahasa verbal (menggunakan bunyi dari mulut). Bahkan orang yang tidak bisa berkomunikasi verbal (tuna wicara/bisu) pun tetap masih bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Anak yang masih bayi pun berkomunikasi. Bentuk komunikasi bayi dengan cara menangis jika lapar, atau buang air. Artinya, komunikasi merupakan kebutuhan hakiki setiap manusia.

Kebutuhan manusia terhadap komunikasi ini tidak bisa dicegah bahkan oleh kekuasaan negara. Barang siapa yang mencegahnya maka dia dikatakan tidak manusiawi, diktator, tidak demokratis dan segalanya yang jelek-jelek.

Bagaimana jadinya kalau di dunia ini orang tidak berkomunikasi? Pasti banyak terjadi kekacauan karena masing-masing orang berkonflik akibat salah mengerti atas tindakan yang dilakukan antara seseorang kepada orang lain. Pada saat terjalin komunikasi seperti sekarang ini saja masih banyak kekecauan yang terjadi akibat salah mengerti.

Komunikasi – bagi saya – merupakan gerbang silaturahim untuk membina hubungan sosial antar sesama. Ikatan silaturahim ini bisa langgeng jika komunikasi di antara pihak terkait terjalin dengan baik dan secara intensif. Kita tidak boleh meremehkan urusan komunikasi ini. Meskipun hanya sebuah senyuman & salam yang diberikan itu merupakan kontak komunikasi juga yang akan berdampak bagus bagi si penerima pesan senyuman & salam tadi. Siapa yang tidak senang mendapatkan senyuman & salam dari seseorang? Islam juga menganjurkan hal seperti itu. Bahkan merupakan kewajiban seorang Muslim. "Dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah.”

Jika kita sudah mengetahui bahwa gerbang dari silaturahim ini adalah komunikasi maka tentu kita bisa berkesimpulan pula bahwa putusnya silaturahim ini bisa dimulai dari putusnya komunikasi di antara pihak yang bersangkutan. Putusnya komunikasi ini bisa disengaja atau tidak disengaja, timbul dari satu pihak atau kedua pihak atau juga karena faktor lain diluar masalah personal si pelaku. Apapun sebabnya pasti akan berdampak bagi si pelaku di dunia dan akhirat. Di dunia tentu akan kehilangan jaringan sosial yang sudah terjalin & itu sangat merugikan. Sedangkan di akhirat akan berdampak pada tidak akan masuk syurga bagi yang memutus ikatan silaturahim ini seperti yang tertulis pada hadits, "Dari Al-Zuhri, bahawa Rasulullah SAW bersabda : Tidak akan masuk syurga bagi yang memutuskan silaturahim." (Riwayat Al-Imam Muslim).

Ini rahasia. Sssttt…jangan bilang siapa-siapa ya! WOW!!

14 Agustus 2008

Suka dan Benci

Oleh Agus Triyatno

Setiap orang memiliki kesukaan dan kebencian masing-masing. Obyek yang disukai atau yang dibenci ini bisa macam-macam. Ada yang makhluk hidup maupun benda mati. Makhluk hidup misalkan manusia atau hewan. Benda mati misalkan mainan tertentu atau jenis kendaraan tertentu.

Perbedaan obyek yang disukai atau dibenci ini tergantung dari pengalaman si individu. Misalkan saja Anda suka membaca buku Trilogi The Lost Boy sedangkan saya cenderung suka membaca buku Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur!. Mungkin Anda menyukai buku The Lost Boy itu karena memiliki pengalaman yang sama dengan tokoh utama dalam cerita tersebut. Begitupun dengan saya yang memiliki kesamaan cerita dengan buku yang saya suka. Begitu seterusnya. Ini hanya contoh saja.

Tapi, tidak semua obyek yang kita suka atau yang kita benci selalu berbeda masing-masing orang. Terkadang kita juga bisa memiliki kesamaan obyek. Misalkan saya menyukai acara televisi The Nanny dan Anda pun menyukai acara The Nanny juga. Lantas, kita membentuk sebuah komunitas yang terdiri dari banyak orang yang memiliki kesamaan menyukai acara televisi The Nanny. Saling berbagi pengalaman dan informasi. Meskipun begitu, tetap saja motif yang melatarbelakangi kesukaan itu yang berbeda tergantung si individu. Anda menyukai acara The Nanny karena Anda mungkin seorang perempuan yang nantinya berkeinginan menjadi ibu dari anak-anak Anda. Sedangkan saya menyukai acara The Nanny karena saya menyukai kekasih saya yang suka menonton acara The Nanny. Dengan begitu saya bisa lebih memahami kehidupan kekasih saya. Dari sini jelas bahwa meskipun memiliki kesamaan obyek tetap saja hal tersebut dipengaruhi oleh pengalaman subyektif si pelaku.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah perasaan suka dan benci ini bisa hilang? Atau bahkan bertukar posisi. Dulu saya menyukai buku Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dan sekarang saya membecinya. Bisakah begitu? Kemungkinannya adalah bisa terjadi. Kembali ke motif saya menyukai buku tersebut. Kalau saya menyukai buku tersebut hanya karena kekasih saya menyukai buku itu maka ketika sekarang saya membenci kekasih saya maka saya pun membenci hal-hal yang berhubungan dengan kekasih saya itu. Begitupun sebaliknya. Saya mencoba untuk menyukai hal-hal yang dibenci kekasih saya. Ini saya lakukan sebagai bentuk perwujudan dari kebencian saya terhadap kekasih saya. Seperti lagu band Naif, “benci untuk mencintai, mencintai untuk membenci.”

Sadar atau tidak, kita suka melakukan hal tersebut di atas. Benci untuk mencintai dan mencintai untuk membenci. Kita terlalu takut untuk menyatakan perasaan kita yang sebenarnya. Kebanyakkan yang dilakukan adalah melemparkan perasaan diri kita kepada obyek lain selain diri kita. Dalam istilah ilmu psikologi disebut proyeksi. Orang berbondong-bondong datang ke Jombang hanya untuk melihat olah TKP dan penggalian mayat yang dibunuh oleh tersangka Ryan. Padahal tidak ada kaitan saudara kandung dari Ryan maupun dari si korban. Kenapa warga begitu antusias? Terlihat juga ada yang menjual pernak-pernik tentang Ryan semisal foto Ryan sewaktu kecil. Fenomena apa ini?

Saya menemui seorang dosen komunikasi UNTIRTA Serang Banten, Tuan Guru Yearry Panji. Dia menjelaskan bahwa bisa jadi warga yang berbondong-bondong ingin melihat Ryan menganggap Ryan bukan sebagai penjahat melainkan sebagai pahlawan. Ryan menjadi ikon representasi dari kebanyakkan warga itu. Jangan-jangan warga itu juga ingin melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Ryan tapi tidak berani melakukannya. Ya, kita – orang kebanyakkan – memiliki mental pengecut. Ingin atau telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma tapi hanya bisa berlindung dari orang-orang yang berani bertanggungjawab.

Ini Rahasia. Sssttt…jangan bilang siapa-siapa ya! WOW!!

13 Agustus 2008

Menjadi Orang Yang Lebih Baik

Oleh Agus Triyatno

Apa yang Anda lakukan bila memperingati tanggal kelahiran? Kelahiran di sini bisa apa saja. Bisa kelahiran seseorang, kelahiran organisasi, bangunan rumah kita, gedung, dll. Lantas, kenapa tanggal kelahiran ini diperingati?

Banyak alasan untuk itu semua. Ada yang berpandangan bahwa tanggal kelahiran tidak perlu diperingati. Tak ada tuntunannya dari Rasulullah SAW bahkan untuk acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan tepat pada tanggal kelahiran beliau. Pandangan lainnya adalah memperingati tanggal kelahiran sebagai momentum untuk merenung diri tentang apa saja yang telah dilakukan dan menciptakan harapan-harapan di masa depan.

Ada banyak cara untuk memperingati tanggal kelahiran. Paling banyak yang dilakukan orang adalah dengan mengundang kawan-kawan, kerabat dan orang-orang yang dikenal untuk datang berpesta. Selesai. Hasilnya hanya kenyang, menambah relasi baru (karena biasanya para undangan datang dengan membawa teman yang lain), dan lelah. Sedangkan, tujuan awalnya untuk merenung diri tak pernah terlintas.

Saya pun merenung. Mencoba memahami makna perenungan saat memperingati tanggal kelahiran. Ternyata ada tiga hal besar yang bisa dicatat. Pertama, menciptakan harapan di masa depan. Kedua, bagaimana cara menggapai harapan tersebut. Ketiga, mengingat kembali apa yang sudah dilakukan.

Saya mulai dari harapan karena biar jelas apa yang ingin dicapai dalam perenungan. Setelah kita tahu apa yang mau dicapai maka kita berpikir cara untuk mencapai tujuan itu. Setelah itu, baru kita mengingat kembali apa yang telah dilakukan untuk patokan apakah yang kita lakukan selanjutnya lebih baik dari sebelumnya. Kita pasti ingin selanjutnya menjadi orang yang lebih baik. Sebagaimana hadits Rasulullah yang sangat populer menyatakan, ''Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.''

Tujuan akhir yang direncanakan harus lebih dari sekedar dunia, tapi kehidupan setelah dunia. Seperti yang tertera dalam Al Qur’an (QS. Al Hasyr (59) :18, ''Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat).''

Tatacara yang dilakukan untuk mendapatkan tujuan itu dibuat secara umum saja sesuai dengan yang tertulis di Al Qur’an. Allah SWT berfirman, "Tidak Aku ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali untuk beribadah" (QS. Adz Dzariyat (51): 56). Beribadah secara umum adalah mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah SWT. Bagaimana rincinya untuk bisa beribadah dengan mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah SWT diserahkan kepada masing-masing individu. Setiap orang dituntut kreatif dalam beribadah sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, perlu belajar sepanjang waktu.

Terakhir adalah dengan terus mengevaluasi atas apa yang telah dilakukan. Ini penting supaya kita dapat mengetahui apakah kita telah menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Ini rahasia. Sssttt…jangan bilang siapa-siapa ya! WOW!!

12 Agustus 2008

Takdir

Oleh Agus Triyatno

Seorang guru sejarah bertanya kepada muridnya tentang sebab tertangkapnya Pangeran Pattimura oleh Belanda. Dijawab oleh murid itu bahwa sebab tertangkapnya adalah takdir!

Itulah penggalan cerita dari sebuah iklan di televisi. Kita mungkin tertawa jika menonton iklan tersebut. Jawaban murid itu seperti tidak menjelaskan apa-apa secara ilmiah. Tapi, bagi saya hal itu bisa menggambarkan pandangan dunia (world view) sang murid yang berbeda dari banyak orang yang menertawakannya.

Di dunia ini memang banyak hal yang saling berlawanan. Misalkan saja kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah. Ada pula Halal (sesuatu yang kita boleh lakukan) yang berlawanan dengan Haram (sesuatu yang tidak boleh kita lakukan). Di antara Halal dan Haram tadi ada Syubhat (hal yang belum jelas hukum halal atau haram).

Dalam iklan yang tadi saya melihat ada hal yang saling berlawanan. Satu sisi adalah hal yang rasional dengan penjelasan ilmiah. Hal ini banyak dianut manusia sekarang ini. Satu sisi lagi adalah yang menggambarkan tentang kepasrahan pada takdir Allah SWT seperti yang jawaban dari sang murid.

Bagi yang percaya dan pasrah pada takdir beranggapan bahwa segala sesuatu itu sudah diatur oleh Allah SWT sedangkan manusia sebagai makhluk cipataan-Nya cukup hanya pasrah saja dengan apa yang diatur oleh Allah SWT. Mereka percaya bahwa Allah SWT tidak akan menelantarkan setiap makhluk. Pandangan dunia seperti ini bisa membuat orang tidak giat bekerja dan berpikir cerdas dalam hidupnya.

Bagi orang yang selalu rasional maka segala sesuatunya diukur dengan parameter akal pikiran secara ilmiah. Bahwa segala sesuatu yang kita hadapi di dunia ini bukanlah semata-mata takdir Allah SWT melainkan juga ada campur tangan manusia. Bahkan secara ekstrem sudah menafikan campur tangan Tuhan. Bahwa semua yang terjadi adalah atas usaha manusia.

Di antara kedua pandangan ekstrem di atas masih ada jalur tengah, yaitu gabungan antara keduanya. Percaya terhadap takdir Allah SWT dan berusaha sekuat tenaga dalam menghadapi permasalahan. Pandangan dunia seperti ini juga memiliki landasan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah takkan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka.” (lihat Q.S. Ar-Ra’du; (13) : 11).

Suatu hari saya menyambangi dosen IPDN Jatinangor, Tuan Guru Inu Kencana Syafi’ie. Beliau pun menjelaskan secara sederhana tentang takdir. Baginya, sesuatu dikatakan takdir ketika segala daya & upaya manusia sudah tidak bisa lagi diharapkan hasilnya. Kalau masih bisa dilakukan dengan tenaga manusia maka lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Ini berlaku pada setiap kejadian.

Jodoh, rizki dan mati adalah takdir Allah SWT. Bila kita menggunakan pandangan yang dijelaskan Tuan Guru Inu Kencana maka kita bisa sekuat tenaga mencari jodoh dan rizki. Barulah setelah tenaga kita habis dan hasilnya tidak sesuai harapan maka kita bisa pasrah bahwa itu adalah takdir. Tapi, selagi ada tenaga maka kita dituntut berusaha sekuat tenaga. Nah, apakah kita sudah sekuat tenaga mencari rizki dan jodoh kita?

Ini rahasia. Sssttt…jangan bilang siapa-siapa ya! WOW!!

11 Agustus 2008

Mudah, Jujur & Percaya

Oleh Agus Triyatno

Suatu saat ada seseorang dari komunitas terasing datang menemui Rasulullah SAW tercinta. Orang itu menanyakan tentang apa yang harus dilakukan jika dirinya memeluk Islam. Rasululllah SAW tercinta ini menjawab seperti lagu band Radja: Jujurlah padaku!

Orang tadi pun terkejut karena begitu mudahnya Islam sehingga dia pun bersedia memeluk Islam dan kembali pada komunitasnya. Kebiasaan-kebiasaan yang pernah dilakukan sebelum memeluk Islam masih ingin dilakukan walaupun bertentangan dengan Islam. Ketika ingin melakukannya orang yang baru memeluk Islam ini lantas teringat pesan dari Rasulullah SAW tercinta. Dia harus jujur pada Rasulullah SAW. Kalau dia bicara jujur telah melakukan yang dilarang Islam maka pastilah dia dihukum. Oleh karena itu, dia tidak jadi melakukan hal yang dilarang Islam itu.

Dari kisah ini saya memetik buah hikmah. Di antaranya adalah kemudahan dan kejujuran.
Islam itu mudah seperti yang diungkapkan Rasulullah SAW. “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak akan pernah seseorang menyulit-nyulitkan perkara agama ini, melainkan ia akan dikalahkan.” (Riwayat Imam Bukhari, dari Abu Hurairah Ra.). Kemudahan dalam kisah di atas menggambarkan kecerdasan Rasulullah SAW dalam berda’wah atau mengajak seseorang untuk memeluk Islam. Rasulullah SAW paham bahwa yang datang adalah orang dari komunitas terasing sehingga perintah pertama bila memeluk Islam cukup jujur kepada dirinya.

Lantas, kenapa Rasulullah SAW memerintahkan jujur pertama kali? Bagi saya, kejujuran merupakan prinsip dasar. Meskipun sederhana tapi bisa dilihat dampaknya. Orang yang baru memeluk Islam akhirnya tidak berani melakukan kebiasaan sebelum Islam karena bila ia berbicara jujur pada Rasulullah SAW telah melakukan kebiasaan yang bertentangan dengan Islam pasti akan mendapatkan ganjaran hukuman.

Kejujuran juga merupakan gerbang kepercayaan. Kepercayaan adalah citra diri yang diakui oleh orang lain sebagai orang yang bisa dipercaya. Ini adalah modal sosial (social capital) yang tinggi nilainya dalam berhubungan dengan orang lain. Sebelum Muhammad SAW menjadi Rasul, Alloh SWT menganugerahkan kepercayaan ini (Al Amin) sehingga ketika beliau berseru maka tak ada lagi keraguan bagi yang mendengarnya. Bahkan ketika Rasulullah SAW bercerita tentang peristiwa Isra’ Miraj yang baru dilakukannya yang secara akal tidak mungkin, tapi orang-orang tetap masih percaya. Seseorang yang percaya itu adalah Abu Bakar Ra.

Kepercayaan tidak datang dengan tiba-tiba, melainkan harus diperjuangan. Waktu yang dibutuhkan relatif. Ada yang cepat, ada yang memakan separuh umur hidupnya, dan mungkin selama hidupnya berjuang mendapatkan kepercayaan. Memang susah mendapatkan kepercayaan itu. Tapi, bila menghilangkannya sangatlah mudah. Cukup Anda mengkhianati kepercayaan yang sudah Anda peroleh maka musnahlah kepercayaan itu.

Ini rahasia. Sssttt… jangan bilang siapa-siapa ya! WOW!!

08 Agustus 2008

Dampak Berzinah

Oleh Agus Triyatno

Al kisah, seorang perempuan yang dituduh berzinah dihakimi warga. Tiba-tiba muncul seseorang dari keramaian warga melindungi perempuan itu.

Dia berseru, “Siapa saja boleh menghakimi perempuan ini jika dirinya benar-benar bersih dari dosa.”

Anehnya, setelah seruan itu, para warga justru pergi meninggalkan perempuan itu. Tak ada lagi yang menghakimi. Termasuk orang yang berseru tadi. Konon kabarnya, orang yang berseru itu adalah Nabi Isa AS.

Berzinah adalah perbuatan sex laki-laki dan perempuan tanpa akad pernikahan. Bobot zinah ini bisa bermacam-macam tergantung apa yang dilakukannya. Mulai dari lirikan, rayuan, rangsangan, rabaan, ciuman hingga puncaknya adalah berhubungan kelamin.

Perbuatan zinah ini bukan hanya dibenci warga tapi juga oleh Allah SWT. Karena itu, di Al Qur’an tertulis perintah untuk menjauhi zinah (lihat Q.S. Al Isra’, 17:32). Menjauhi berarti termasuk hal yang dapat menyebabkan zinah sedari awal. Bukan hanya puncak zinahnya saja.

Perbuatan zinah berdampak bagi kehidupan pelakunya di dunia dan akhirat. Di akhirat tentu berbuah dosa karena menentang perintah Allah SWT. Semoga Allah mengampuni. Di dunia bisa berdampak pada dua hal. Pertama bersifat perasaan dan kedua adalah materi tubuh.

Dampak perasaan timbul ketika pelaku zinah merasa bersalah dan perlu waktu lama untuk menyembuhkan. Tapi, hal ini bisa disembuhkan dengan terapi kejiwaan terus-menerus. Sedangkan dampak materi pada tubuh yang tak bisa disembuhkan. Meskipun jiwa sudah tenang tapi tetap saja tubuh itu sudah ternoda akibat zinah. Telapak tangan bekas menjamah, kecupan bekas ciuman, hingga puncaknya adalah lahirnya seorang anak di luar pernikahan. Dan, biasanya jiwa itu terguncang lagi mengingat perbuatan zinah yang lalu dampak dari materi tubuh yang ternoda zinah. Padahal orang lain tidak ada yang mengetahuinya, bahkan pasangan hidupnya sekalipun.

Ini rahasia. Sssttt…Jangan bilang siapa-siapa ya! WOW!!

Orangtua & Anak Pembangkang

Oleh Agus Triyatno

Mungkin tabiat anak jadi pembangkang orangtua. Membangkang artinya tidak mau melakukan atau menentang perintah orangtua. Di Al Qur’an tertulis bahwa penentangan ini dilarang, bahkan hanya berucap “ah”. Bagi saya, adanya teks Al Qur'an ini menandakan bahwa penentangan ini pernah, sedang, dan akan terjadi, sehingga Allah SWT memperingatkannya. Hal ini berdampak bagi kehidupan si pembangkang di dunia & akhirat. Di akhirat berbuah dosa. Semoga ampunan Allah SWT melimpah. Di dunia berdampak pada rusaknya hubungan si pembangkang dengan orangtua karena hati orangtua telah terluka. Tapi, Allah SWT meninggikan derajat orangtua dimanapun mereka berada. Sebesar apapun pembangkangan anak terhadap orangtua tetap saja orangtua akan memaafkan. Ingatlah kisah anak yang mau dibakar Rasulullah SAW tercinta ketika orangtua anak itu tidak mau memaafkan padahal sang anak sudah menjelang ajal. Atau, ingatlah kisah Malin Kundang dari Tanah Minang. Meskipun mulanya orangtua marah tapi tetap di akhirnya memaafkan. Karena itu, Allah SWT meninggikan derajat orangtua.

Ini rahasia. Sssttt...Jangan bilang siapa-siapa ya! WOW!!

05 Juni 2008

Kenaikan Harga BBM

Oleh Agus Triyatno

Pemerintah sudah mengumumkan kenaikan harga BBM. Meskipun tidak disertai dengan pengumuman kenaikan harga-harga yang terkait dengan BBM tetap saja harga-harga selain BBM ikut-ikutan naik. Mereka latah semua. Tarif transportasi umum langsung dinaikan secara sepihak oleh pengelola angkutan umum. Beberapa di antaranya melakukan mogok tidak beroperasi. Pada mulanya penumpang protes karena belum ada pengumuman resmi dari pemerintah tentang kenaikan tarif ini. Tapi supir lebih ngotot lagi dari penumpang hingga penumpang itu hilang nyali dan membayar seperti yang diminta oleh supir.

Kenaikan harga BBM ini karena pemerintah mencabut subsidi yang selama ini ditanggung pemerintah melalui APBN. Pemerintah menganggap subsidi ini tidak dinikmati oleh warga miskin melainkan dinikmati oleh orang kaya yang memiliki kendaraan pribadi. Subsidi ini kemudian disalurkan kepada orang miskin secara langsung. Istilah yang dipakai adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Pemerintah menggunakan data orang miskin tahun 2005 yang dikelola BPS. Data ini pun menjadi permasalahan karena terjadi perubahan data orang miskin yang tidak tercatat hingga tahun 2008. Di beberapa tempat sempat terjadi keributan antara aparat pemerintah daerah yang membagikan BLT dengan warganya. Di tempat yang lain aparat menolak membagikan BLT karena takut bentrok dengan warganya dan mengusulkan dana BLT dialih-fungsi menjadi program kerja padat karya.

Saya merupakan bagian dari orang yang senantiasa berpergian menggunakan angkutan umum. Motor saya tak punya. Apalagi mobil, tak ada juga. Hanya sepeda roda dua. Tidak mungkin saya gunakan sepeda itu dari Tangerang ke Jakarta setiap hari untuk berangkat kerja. Terlalu menguras tenaga.

Apabila di Jakarta biasanya saya menggunakan angkutan umum mikrolet. Tetapi sekarang tarif mikrolet sama saja dengan tarif busway yang tidak ikut naik. Pada akhirnya saya pun beralih lagi ke busway. Perasaan saya penumpang busway menjadi lebih banyak. Sampai di terminal Dukuh Atas 2 dari arah Pulo Gadung. Saya beralih ke lajur busway arah Blok M. Betapa penuh sesak penumpang yang antri di halte depan pintu masuk bis. Saya mengantri bersama penumpang lainnya. Lelaki perempuan bercampur-baur. Berbagai aroma jadi satu. Kebanyakan mereka adalah karyawan. Penampilan mereka banyak yang necis, rapi jali. Saya terdorong dari depan – belakang – samping kanan kiri ketika mau masuk ke dalam bis. Saya pun melihat begitu mudahnya pelecahan seksual terjadi di sini dengan alasan berdesak-desakan.

Sempat terpikir apakah mereka yang terlihat necis ini terkena dampak kenaikan tarif angkutan umum gara-gara kenaikan harga BBM juga. Penampilan memang tidak serta merta menunjukkan kesejahteraan seseorang. Tapi bagi saya hal itu dapat memperlihatkan keuangan seseorang. Pakaian yang dikenakan, sepatu, telepon genggam, laptop, dll. Itu semua bisa menjadi indikator seberapa mampu mereka membeli barang-barang tersebut. Kalau itu semua karena meminjam, itu soal lain. Berarti harus dipikirkan lagi, kenapa ada orang yang memaksakkan diri untuk meminjam sesuatu kepada orang lain demi penampilannya?

Menurut saya, mereka semua yang naik busway itu tidak mendapatkan BLT dari pemerintah gara-gara kenaikan harga BBM. Tapi mereka juga tetap kena dampaknya. Mereka bagian dari rakyat yang mestinya juga diperhatikan nasibnya oleh pemerintah. Lantas, apa solusinya?

Saya berpikiran bahwa angkutan umum ini diberikan subsidi untuk BBM asalkan tarif yang sudah naik ini kembali diturunkan seperti semula. Penghasilan penumpang tidak naik. Pengusaha yang menggaji penumpang angkutan umum sudah terdesak keuangannya. Gara-gara harga BBM naik jelas biaya produksi ikut naik. Kalau diharuskan menaikkan gaji pegawai tentu hal ini menambah beban pengusaha. Pasalnya sekarang harga yang sudah naik sangat urung diturunkan. Meski angkutan umum sudah mendapatkan subsidi saya menebak kalau tarif yang sudah naik tidak akan diturunkan. Jadi, pikiran saya ini percuma. Tolong lupakan saja.

Saya sebagai penumpang menjadi terbiasa denagan keadaan ini. Telah beradaptasi dengan kenaikan harga BBM, kenaikan tarif angkutan umum dan gaji yang tetap segitu-gitunya. Adaptasi yang saya terapkan bukannya menambah penghasilan, melainkan kepasrahan dengan mengatur ulang penghasilan yang ada. Memangkas pengeluaran dan sabar, pasrah, ikhlas, ridho atas keadaan ini. Dengan begitu saya berharap saya mendapatkan pahala kesabaran. Itu saja harapan saya sekarang ini. Daripada mengharapkan harga-harga turun yang rasanya tidak mungkin terjadi.

Status dan Peran

Oleh Agus Triyatno

Saya melancong ke Jatinangor – Bandung pada Sabtu–Ahad, 31 Mei – 1 Juni 2008. Saya mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya singgahi sebelumnya. Kampus, kos kawan-kawan yang masih setia di Jatinangor-Bandung, dan tempat kuliner. Salah satunya adalah tempat makan di Jatinangor. Tempat ini menjajakan masakan dari Padang. Tidak seperti tempat lain, di tempat ini lebih murah harganya meski porsinya lebih sedikit. Ya, cocok dengan kantong mahasiswa. Tempat makan itu namanya Citra Minang.

Pemilik tempat makan Citra Minang ini juga mengelola kos-kosan di Jatinangor. Dengan begitu, sebagai perantau dia menetap di Jatinangor. Untuk lebih enaknya, kita sebut saja pemilik tempat makan Citra Minang ini dengan naman Pak Tanjung.

Ketika saya melancong di Jatinangor, khususnya Desa Cikeruh sudah masuk waktunya pemilihan kepala desa. Prosesnya baru tahap pendaftaran calon kepala desa dan pemberitahuan adanya pemilihan kepala desa kepada warga. Pendanaan pemilihan kepala desa di sini dibebankan kepada warga. Tidak seperti pilkada tingkat kabupaten/kota, provinsi, atau nasional yang dibebankan kepada anggaran daerah atau negara.

Menjelang sore hari saya melancong ke tempat makan Citra Minang. Di sana saya bertemu dengan Bu Tanjung yang melayani pembeli. Dari Bu Tanjung ini saya mendapatkan kisah tentang pengumpulan dana dari warga untuk pemilihan kepala desa di Cikeruh. Beginilah ringkasan ceritanya.

Pak Tanjung yang sudah tinggal menetap di Jatinangor sejak beberapa tahun yang lalu sudah dianggap sebagai bagian dari warga Jatinangor. Dalam pencarian dana untuk pemilihan kepala desa ini Pak Tanjung tidak luput untuk dimintai dananya. Tapi Pak Tanjung kaget sekaligus bingung bukan kepalang. Pak Tanjung mendapatkan tiga buah permohonan dana untuk pemilihan kepala desa. Kok bisa? Ternyata, selidik punya selidik – Pak Tanjung dimintai dana pemilihan kepala desa karena terkait statusnya. Pak Tanjung menyandang tiga status sekaligus; sebagai warga biasa, sebagai pengelola kos-kosan, dan sebagai pemilik tempat makan Citra Minang.

Status itu terkait erat dengan peran. Status sebagai identitas diri dan peran sebagai hal yang mesti dilakukan terkait dengan status yang disandang oleh seseorang. Misalkan saya memiliki status sebagai anak maka peran saya sebagai anak adalah menghormati orangtua. Begitu pun saya bila sudah menikah dan mempunyai anak. Maka status saya bertambah menjadi orangtua dari anak saya dan masih tetap menjadi anak dari orangtua saya. Peran saya sebagai orangtua tentu harus menyayangi anak saya. Begitulah seterusnya.

Kita dapat memiliki banyak status dan peran. Bahkan status yang kita sandang bisa bertentangan satu sama lain. Misalkan saja ketika seorang penegak hukum malah melakukan pelanggaran hukum. Oleh karena itu, kita mesti dapat mengatur peran sebaik-baiknya terkait dengan status yang kita sandang.

Status ini bisa didapat karena keturunan atau karena usaha sendiri. Status bangsawan merupakan contoh dari status yang diturunkan. Status yang didapat dengan usaha sendiri misalkan saja dokter. Siapa saja bisa bisa mendapat status dokter asalkan belajar ilmu kedokteran. Terkadang kita kurang memahami status kita sendiri. Kita ini siapa? Status apa yang kita kehendaki? Bila pertanyaan tentang status ini dapat kita jawab maka niscaya kita menjalankan peran kita dengan suka cita karena jawaban tersebut apa yang kita inginkan. Terkadang kita hanya menerima saja apa yang terjadi terhadap kita. Hal ini yang membuat kita tidak terima keadaan dan ingin berontak terhadap keadaan tersebut. Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan status itu. Bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena hal itu perlu dipikirkan secara matang. Saya pun masih mencari status yang saya inginkan. Bila sudah ketemu jawaban status yang saya inginkan tapi masih susah untuk memerankan peran dari status itu karena lingkungan sekitar saya. Itu hal yang biasa. Bila ada sesuatu yang baru maka lingkungan perlu adaptasi hingga terbiasa dan mencapai keseimbangan semula.

Pak Tanjung masih bingung dengan tiga surat permohonan dana untuk pemilihan kepala desa. Sama bingungnya dengan saya yang masih mencari status diri saya. Siapa saya? Apa yang mesti saya lakukan?

04 Juni 2008

Gara-Gara Koran Bekas

Agus Triyatno

Jum’at, 30 Mei 2008
Saya keluar kantor menjelang malam. Sudah direncanakan kalau sesudah dari kantor langsung ke Jatinangor-Bandung. Saat perjalanan di dalam Mikrolet menuju pangkalan bis Primajasa di UKI Jakarta saya mendapati dua orang ibu. Salah seorang di antaranya sedang bercerita kepada yang lainnya. Beginilah ringakasan ceritanya.

Sebut saja dua orang ibu itu bernama Santi dan Dewi. Santi bercerita tentang teman suaminya. Sebut saja teman suaminya Santi bernama Ari. Ari ini sudah diangkat menjadi pegawai tetap. Tidak dijelaskan bekerja di mana.

Setiap pulang kerja pada sore hari, Ari selalu mengumpulkan koran yang ada di kantor untuk dibawa pulang ke rumahnya. Setiap orang sudah mempunyai jatah koran dari kantor setidaknya ada 3 nama koran. Kompas, The Jakarta Post, dan yang terakhir lagi saya lupa namanya. Kejadian ini sudah berlangsung lama. Entah apa motifnya Ari melakukan hal tersebut. Apakah ingin mendapatkan uang tambahan dengan menjual koran bekas?

Pada suatu saat pihak kantor melaporkan Ari dengan tuduhan mencuri koran milik kantor. Langsung saja Ari yang menjadi tertuduh. Dilaporkan ke polisi. Sempat mendekam di Polres terdekat. Suaminya Santi meminta tolong kepada kerabat yang menjadi polisi untuk membebaskan Ari. Pada akhirnya Ari pun di bebaskan. Setelah itu, Ari dipecat dari pekerjaannya. Tinggal istri dan anaknya yang menunggu di rumah dengan harap-harap cemas.

Begitulah ringkasan cerita Santi. Ditambah lagi dengan pendapat dari Santi dan Dewi. Saya pun bercerita kepada kawan di kantor tentang kisah dari Santi untuk mengetahui pendapat mereka. Ternyata pendapat mereka sama saja dengan pendapat Santi dan Dewi. Beberapa pendapat itu mempertanyakan motif dari Ari melakukan pengumpulan koran di kantor untuk dibawa pulang ke rumah.

Selain itu, pendapat lainnya adalah bila memang Ari ingin mengumpulkan koran di kantor pada sore hari dengan asumsi sudah tidak terpakai lagi (bekas), kenapa tidak ijin dengan pihak kantor secara baik-baik saja. Kalau tidak diberikan untuk mengumpulkan koran bekas milik seluruh pegawai di kantor, Ari masih bisa membawa pulang jatah 3 koran yang diberikan dari kantornya.

Dari cerita tersebut saya menjadi berkaca-diri. Jangan sampai nasib saya serupa dengan Ari dalam kisah di atas. Hanya karena nilai yang tidak seberapa dengan menjual koran bekas milik kantor rusak reputasi. Ditahan polisi, dipecat karena kasus pencurian. Istri dan anak butuh pemenuhan kebutuhan hidupnya. Penghasilan suami tidak ada lagi. Mau mencari kerja di tempat lain tentu lebih sulit karena catatan kriminal pencurian. Koran hanya satu bentuk. Bentuk lainnya ada map, amplop, kertas HVS, dll. Kita harus bisa menahan diri. Mengambil barang yang bukan milik kita adalah mencuri. Pencurian itu dilarang hukum negara dan agama.

30 Mei 2008

POSITIVIS vs SUBSTANTIVIS

Tibalah hari itu. Seperti biasanya saya pergi ke kantor pemerintah daerah. Saat ini tujuannya adalah kantor Pemda Kabupaten Bekasi. Dalam perjalanan kali saya ditemani oleh kawan sekantor. Kantor saya bergerak di bidang konsultan manajemen dan konstruksi. Kerjanya menjadi rekanan kantor lain (biasanya pemerintah) dalam melaksanakan program kerjanya. Kawan sekantor yang beriringan pergi dengan saya kali ini adalah bagian marketing. Kerjanya mencari proyek dan lobi orang-orang pembuat kebijakan supaya kantor saya menjadi pemenang tender proyek.

Berkisahlah kawan saya itu. Dia baru saja mengantar bos saya – tentu bos dia juga – untuk menemui seseorang yang katanya ‘orang dekat’ Bupati Bekasi. Menemui ‘orang dekat’ Bupati ini melalui perantara. Sebut saja nama perantara ini namanya Pak Bambang (bukan nama sebenarnya). Pertemuan itu pun dinyatakan sukses. Tinggal tindak lanjutnya. Diharapkan dari pertemuan itu kantor saya dapat proyek yang dapat dikerjakan dari Pemda Kabupaten Bekasi.

Satu hari setelah pertemuan itu, Pak Bambang menelpon kawan saya. Dia meminta ‘jatah akomodasi’ karena telah berjasa mempertemukan bos saya dengan ‘orang dekat’ Bupati tadi. “Jatah akomodasi” ini dapat diistilahkan sebagai uang jasa. Besarnya tidak ditentukan. Disinilah letak seninya. Tergantung si pemberi uang. Kalau jumlah uangnya besar mungkin saja Pak Bambang akan terus mempertemukan bos saya dengan ‘orang dekat’ pemilik proyek lainnya. Tapi, bila bos saya memberikan uang jasa kepada Pak Bambang sedikit atau bahkan tidak sama sekali memberikan uang niscaya Pak Bambang akan enggan membantu kantor saya lagi dan mungkin pula akan bilang kepada orang lain agar tidak bekerjasama dengan kantor saya karena tidak mau memberikan uang jasa atau sedikit jumlah uang yang bisa diberikan.

Kawan saya mengerti maksud pembicaraan dari Pak Bambang tentang uang jasa ini. Tapi dia tidak memiliki kebijakan untuk memberikan uang kantor begitu saja. Harus minta ijin bos dulu. Akhirnya kawan saya menelpon bos untuk membicarakan hal tersebut.

Kawan saya bilang kalau Pak Bambang minta uang jasa setelah mempertemukan kantor dengan ‘orang dekat’ Bupati. Hanya bos saya sepertinya tidak mengerti bahasa kiasan. Kawan saya bilang uang itu untuk akomodasi seperti beli pulsa karena sering komunikasi mengatur jadwal dengan ‘orang dekat’ Bupati itu, beli rokok, dll.

Tak diduga, bos saya bilang kalau mau minta pulsa biar nanti pulsa itu ditransfer dari hp bos langsung kepada Pak Bambang. Kawan saya pun terkejut. Intinya kantor tidak mau mengeluarkan uang jasa ini karena di dalam laporan keuangan kantor tidak ada hal seperti itu. Itu pungutan liar namanya. Tidak resmi sifatnya.

Tak berapa lama Pak Bambang menelpon kembali kawan saya. Dia mempertanyakan uang jasanya. Kawan saya pun bingung menjawabnya. Akhirnya, diceritakan saja apa adanya yang baru saja dialami kawan saya ketika berbicara dengan bos. Pak Bambang bukannya marah malah tertawa. Entah apa maknanya. Pembicaraan pun selesai.

Terkadang memang kita terbiasa dengan hal-hal yang sifatnya tidak resmi. Memberikan uang kepada petugas, memberikan hadiah kepada seseorang, agar nantinya segala urusannya tidak dipersulit. Mungkin saja petugas itu memang kekurangan biaya hidup karena gajinya yang kecil sehingga dirinya mau menerima uang dari orang yang berkeperluan dengannya. Lumayan dapat uang tambahan. Tapi, mungkin saja orang yang memiliki keperluan dengan petugaslah yang ingin cepat-cepat urusannya selesai sehingga dia memberikan uang kepada petugas agar bisa didahulukan segala urusannya. Jadi bisa dari keduabelah pihak yang menyebabkan tingkahlaku memberikan uang kepada petugas atau orang yang telah merasa berjasa.

Ada lagi perasaan ‘tidak enak hati’ atau ‘rasa terimakasih’. Kebiasaan berterimakasih sudah bersemayam dalam pikiran kita dan menjadi tingkahlaku yang tak perlu dipikirkan lagi. Langsung berbuat saja. Bila kita sudah ditolong dan tidak berterimakasih terhadap pihak yang telah menolong kita maka orang itu akan mendapatkan perlakuan sanksi sosial. Bentuk sanksinya bisa cibiran atau pengucilan dari pergaulan.

Sebagai contoh, ketika telepon di rumah saya tidak berfungsi maka dipanggilah petugas Telkom untuk mengeceknya. Datanglah dua orang petugas. Mereka mengecek hingga ke gardu terdekat. Masalahnya ada pada gardu itu. Setelah itu petugas Telkom itu pun mau pergi. Sebelum mereka pergi saya pun disuruh orangtua saya untuk memberikan uang Rp. 20,000 kepada mereka. Sebagai rasa terimakasih. Padahal saya tahu kalau layanan yang diberikan petugas Telkom ini gratis. Petugas Telkom itu pun senang menerimanya meski jumlahnya tidak seberapa. Masing-masing mendapat Rp. 10,000 / orang.

Bagi saya, memberikan hadiah ketika kita sudah ditolong adalah hal yang baik. Bahkan akan memalukan kita ketika orang yang menolong itu meminta jatah hadiah. Berarti kita tidak peka. Hal ini memang tidak ada aturan tertulis. Hanya ke-peka-an sosial saja namun bisa jadi penting dalam interaksi sosial sehari-hari.

Islam pun begitu. Rasulullah SAW memberikan nasihat kalau kita membayar hutang hendaklah kita memberikannya lebih dari yang dihutangkan sebagai hadiah. Tapi, kelebihan pengembalian hutang ini tidak benar bila sudah ditetapkan diawal-awal akad peminjaman. Itu RIBA namanya dan Islam melarang RIBA. Hadiah ini hanya sebagai rasa terimakasih dari peminjam karena sudah dipinjamkan uang, misalnya. Mungkin saja si pemberi pinjaman mengeluarkan uang lebih ketika memberikan uang pinjaman. Mendapat potongan saldo di mesin ATM, ongkos ke mesin ATM / bank, dsb. Meski begitu, kalau pun tidak memberikan hadiah juga tidak mengapa. Tidak ada paksaan.

Kembali ke kisah kawan sekantor saya. Bos saya itu dapat dikatakan tidak memiliki ke-peka-an sosial. Dalam antropologi hal seperti ini disebut dengan antropologi ekonomi positivis. Sedangkan hal yang memiliki ke-peka-an sosial ini disebut dengan antropologi ekonomi substantivis. Kedua hal itu menjadi pasangan yang berlawanan – oposisi biner. Dan, bisa dibilang sekarang positivis berkuasa atas substantivis. Karena sekolah-sekolah yang membentuk pribadi seseorang mengajarkan itu semua. Ketika kita menemukan hal substantivis layaknya kita menemukan mutiara dalam lumpur.

23 April 2008

Pengamen dan Pedagang di Bis

Oleh Agus Triyatno

Percakapan antara saya dengan seorang kawan pernah berlangsung beberapa tahun yang lalu. Saat itu kami sedang berplesir ke sebuah kota. Di dalam bis antar kota kelas ekonomi itu banyak sekali pengamen dan pedagang yang silih berganti beraksi. Mereka semua berharap mendapatkan uang.

Di lain waktu saya berplesir lagi. Kali ini sendirian saja. Menumpang bis kelas eksekutif. Di sini nampak berbeda. Tak ada pengamen dan pedagang. Ada televisi yang menyala. Melantunkan tembang kenangan. Saya pun terbuai hingga tertidur pulas. Hingga pada akhirnya saya harus membayar ongkos lebih mahal dibandingkan dengan bis kelas ekonomi.

Beberapa hari belakangan ini saya mengubah arah untuk pulang. Dari Jakarta menuju Tangerang. Tapi tetap menggunakan bis kelas ekonomi. Hal ini disesuaikan dengan kemampuan keuangan saya. Setiap kali saya naik bis itu saya selalu menjumpai pengamen dan pedagang. Bahkan ada yang terang-terangan meminta uang tanpa harus bersusah payah untuk mengamen atau berdagang. Baik pagi hari maupun malam. Tidak semua penumpang memberi uang kepada orang tersebut. Yang memberi mungkin karena ketakutan karena diancam akan dianiaya.

Dari berbagai kejadian yang saya ceritakan ada beberapa hal yang saling terhubung. Satu pertanyaan yang membuat saya sempat berpikir, kenapa pengamen dan pedagang mencari uang justru di bis kelas ekonomi yang pada dasarnya penumpang kelas ekonomi itu terbatas keuangannya? Di lain pihak, bis kelas eksekutif dengan penumpang yang memiliki uang lebih banyak dari penumpang bis kelas ekonomi, tidak mau menerima pengamen dan pedagang itu. Bahkan mereka berani membayar ongkos lebih mahal dari bis kelas ekonomi supaya tidak ada pengamen dan pedangannya.

Sepertinya pengamen dan pedagang itu seperti pengganggu kenyamanan penumpang sehingga penumpang bis kelas eksekutif berani membayar mahal ongkosnya. Saya pun sebagai penumpang kelas ekonomi terkadang juga merasa terganggu dengan adanya pengamen dan pedagang. Tapi, bila hal itu dihilangkan terkadang juga saya merasa merindukan kehadiran mereka. Ketika dalam perjalanan menumpang bis kelas eksekutif yang melarang pedagang naik maka saya kebingungan ketika saya haus dan ingin membeli minuman.

Kalau memang pengamen dan pedagang itu mengganggu penumpang bis – baik kelas ekonomi maupun eksekutif – maka perlu dicari bagaimana caranya supaya tidak mengganggu. Apakah dengan mengalokasikan secara khusus atau mungkin dibubarkan saja.

Saya berpendapat bahwa untuk membahas masalah ini perlu dikaji dari akarnya. Misalkan saja mulai dari pertanyaan kenapa pengamen dan pedagang itu ada? Tujuan mereka melakukan itu adalah untuk mendapatkan uang. Bila itu tujuannya maka perlu diberi sarana agar para pengamen dan pedagang itu tidak beraksi di bis. Selain mengganggu, hal itu juga dapat membahayakan keselamatan mereka masing-masing.

Para orang kaya juga lebih baik menyisihkan uangnya untuk pembinaan pengamen dan pedagang ini. Tentu saja hal ini dikelola dengan penuh tanggungjawab. Jangan sampai terjadi korupsi. Dari pada harus membayar mahal kepada pengusaha bis eksekutif, lebih baik uangnya digunakan untuk membina pengamen dan pedagang.

Masalah yang timbul dari gagasan ini adalah, apakah mungkin pengamen dan pedagang itu dihilangkan? Saya pun kurang yakin dengan usulan menghilangkan pengamen dan pedagang di bis. Pembinaan bukan berarti selalu merubah pekerjaannya. Pembinaan bisa berarti membuat pekerjaan mengamen dan bejualan di bis menjadi hal yang tidak mengganggu para penumpang. Caranya bagaimana? Mungkin saja diberikan waktu khusus di tempat tertentu yang membolehkan pengamen dan pedagang itu menjajakan dagangannya. Tak boleh memaksakan kehendak. Jika penumpang tidak mau memberikan uang untuk pengamen atau tidak mau membeli baran dagangan biarkan saja. Namanya juga usaha. Ada kalanya berhasil dan tidak.

Nah, sekarang giliran Anda. Apakah Anda setuju dengan pendapat saya, bertentangan, atau tidak mau dan tidak memiliki pendapat sendiri. itu terserah saja. Di sini hanya tempat untuk berbagi cerita. Bila Anda juga memiliki cerita silakan saja kirim melalui email ke: rk.jatinangor@gmail.com

21 April 2008

MEDITASI UNTUK PERUBAHAN HIDUP

Oleh Agus Triyatno

Sabtu, 19 April 2008

Waktu antara 10.00 – 11.00 WIB saya menonton acara perbincangan bersama Oprah yang ditayangkan di Metro TV. Saat itu tamu Oprah seorang penulis buku yang bercerita tentang karyanya. Buku itu tentang pengalaman hidup penulis yang mencari kedamaian dalam hidup. Ini menurut saya. Maaf kalau penilaian saya salah. Pasalnya saya hanya menonton sebagian. Berpindah saluran TV bila sedang tayangan iklan. Sayangnya saya lupa nama penulis dan judul buku yang ditulisnya.

Saya tertarik dengan tayangan Oprah ini karena penulis tadi bercerita tentang Bali. Sempat terpikir apakah mereka semua tahu Bali itu sebuah bagian dari NKRI? Soalnya mereka hanya berbicara tentang Bali tanpa menyebut kata Indonesia. Bagi saya bukan masalah. Paling-paling yang repot bila ada yang mengaku-ngaku bahwa Bali bagian dari sebuah negara bukan Indonesia seperti kebudayaan daerah di Indonesia yang diakui oleh negara lain atau pulau-pulau terluar yang beberapa di antaranya sudah dibeli oleh orang asing adalah elite politik untuk meningkatkan pamor mereka masing-masing.

Penulis itu bertemu dengan Ketut yang dianggap sebagai peramal dan akhirnya menjadi guru spiritual baginya. Nilai yang dapat saya ingat dari acara tersebut adalah cara meditasi dan tahapan penulis hingga mendapat ‘pencerahan’.

Penulis sempat ziarah ke tempat di berbagai negara untuk mencari pencerahan itu. Di antaranya India untuk melakukan meditasi. Menurut Ketut, meditasi ala India ini begitu rumit. Lantas Ketut menunjukkan meditasi caranya sendiri, yaitu duduk dan tersenyum. Senyum di sini bukan hanya sebatas sunggingan di bibir saja melainkan juga di hati. Niscaya semua yang dihadapi menjadi lebih indah dan terasa bahagia.

Satu hal lain yang diceritakan adalah tentang perubahan yang dialami penulis. Bagi orang yang tertarik akan bertanya bagaimana saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan? Penulis itu tidak menganjurkan supaya melakukan persis seperti apa yang pernah dilakukannya, seperti berkeliling ke tempat di berbagai dunia ini. Dia hanya memberikan tiga cara supaya dapat merasakan seperti apa yang dia rasakan. Pertama, tanyakan kepada diri kita masing-masing tentang apa yang diinginkan. Hal ini agar dijawab dengan jujur dan diulang terus menerus sehingga ada dorongan hasrat yang kuat untuk mencapai keinginan tersebut.

Kedua, catat apa yang membuat kita bahagia dan apa yang membuat kita sedih. Catatan ini berguna untuk mengingat-ingat kembali kenangan kita tentang sesuatu yang bahagia dan sesuatu yang sedih. Kebahagiaan ini inginnya terus kita nikmati dan kita bagi kepada orang lain. Kesedihan akan terus kita hindari dan membantu orang lain agar tidak mengalaminya.

Ketiga, buatlah ‘mantra’ yang positif dan membacanya berulang-ulang sebanyak mungkin. Mantra ini bukan seperti jampi-jampi yang dibaca oleh dukun-dukun. Mantra ini merupakan kata-kata yang memotivasi kita tentang diri kita sendiri. Seperti saya adalah pemberani, orang sukses, pintar, dan sebagainya. Bila ada kata-kata yang negatif seperti saya pengecut, lemah, bodoh, maka hal itu harus dirubah dengan yang positif seperti pemberani, kuat dan pintar. Mantra ini diulang terus menerus supaya mengendap dan menjadi kekuatan dalam diri kita untuk membentuk diri kita seperti kata-kata yang diucapkan itu.

Meski tercecer dari ingatan saya acara selengkapnya tapi setidaknya ada nilai-nilai dari acara Oprah ini yang dapat saya jadikan pelajaran. Saya menganggap pelajaran ini baik dan karena itu pula saya ingin menuliskannya lagi dan membagi kepada siapa saja yang membaca tulisan ini agar bisa diambil manfaatnya.

14 April 2008

Hubungan Orangtua – Anak

Kita sudah sering mendengar tentang kisah-kisah anak yang durhaka kepada orangtua. Salah satu yang terkenal adalah cerita rakyat dari tanah Minang, yaitu Malin Kundang. Kisahnya adalah Malin yang anak orang miskin pergi merantau. Di tanah rantau itu dirinya menjadi orang kaya dan mengawini perempuan cantik dan kaya raya. Suatu saat Malin dan isterinya berserta anak buahnya singgah di suatu daerah yang ternyata itu adalah daerah asalnya Malin dahulu sebelum merantau. Orang-orang kampung segera datang menghampiri rombongan tersebut, termasuk ibu kandung Malin. Tak dapat ditahan rasa rindu sang ibu ketika bertemu anaknya yang sudah kaya itu. Ingin dipeluknya erat-erat. Tapi, Malin menolak. Bahkan dia tidak mengakui bahwa perempuan miskin itu adalah ibu kandungnya. Malin berkoar-koar bahwa dirinya adalah anak orang kaya. Itu dilakukan supaya dirinya tidak malu kepada isteri dan anak buahnya. Akhirnya Malin memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut. Ibunya murka. Dirinya segera mengucap kutukan agar si Malin menjadi batu karena durhaka kepada orangtua. Jadilah bencana itu. Perahu yang ditumpangi Malin dihantam badai. Malin pun terhempas ke pinggir pantai dan menjadi sebuah batu. Konon batu itu ada. Seperti karang yang berbentuk manusia yang berlutut memohon ampun.

Kisah dalam agama Islam yang dianut sebagian besar penduduk di Indonesia ini juga banyak mengisahkan tentang balasan anak yang durhaka kepada orangtua. Salah satu yang saya ingat adalah tentang seseorang yang sedang bertarung dengan malaikat pencabut nyawa. Saat seperti itu nyawanya tidak juga kunjung lepas dari raga sehingga Rasulullah SAW turun tangan. Dapat disimpulkan bahwa masih ada satu perkara yang belum selesai dengan ibunya. Akhirnya sang ibu dipanggil dan dibujuk agar mau memaafkan segala kesalahan sang anak. Sang ibu tidak mau memaafkan. Rasulullah SAW pun marah. Diperintahkan para sahabat untuk menyiapkan kayu bakar untuk membakar sang anak agar lebih mudah meninggal dunia. Hati sang ibu pun luluh. Dirinya tidak tega melihat anaknya disiksa. Apalagi yang menyuruh itu adalah Rasulullah SAW. Setelah ibu mau memaafkan anaknya barulah dengan mudah nyawa itu lepas dari raganya.

Ajaran dalam agama dan juga nilai budaya yang ada di tempat kita hidup sekarang ini memang sangat menjujung tinggi kedudukan orangtua. Anak tidak diperbolehkan untuk membantah segala perintah orangtua bila tidak ingin dikatakan sebagai anak durhaka. Dan, tahukah apa balasan bagi anak yang durhaka? Ya, seperti cerita yang telah saya paparkan di atas sana. Itu baru balasan di dunia. Belum lagi balasan di “hari pembalasan.” Bisa lebih menyedihkan dari yang saya paparkan sebelumnya.

Cerita-cerita itu begitu membekas pada saya hingga saat ini. Betapa tingginya kedudukan orangtua dan begitu rendahnya kedudukan seorang anak. Orangtua memiliki hak veto bagi segala urusan di keluarga, termasuk urusan anak. Sedangkan anak dikatakan sebagai orang yang belum mengerti apa-apa. Orangtualah yang tahu segalanya. Mereka hidup lebih dulu dari pada sang anak. Oleh karena itu, anak harus turut apa kata orangtua.

Dari penjelasan ini nampak bahwa yang dipakai disini adalah dari sudut pandang orangtua. Oleh karena nilai-nilai tersebut sangat menjunjung kedudukan orangtua maka orangtua sebagai pelakon yang menurunkan nilai-nilai terus-menerus menanamkan nilai yang menjunjung kedudukan orangtua tersebut. Prasangka ini sama seperti yang digunakan oleh sebagian pejuang emansipasi perempuan. Perempuan saat ini masih berada di bawah kedudukan lelaki karena nilai-nilai yang menjunjung lelaki lebih tinggi dari perempuan dilestarikan oleh lelaki. Oleh karena itu, pejuang emansipasi perempuan yang meyakini penjelasan seperti tadi menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki untuk melawan lelaki secara total, baik fisik, politik, sosial, budaya, semuanya.

Saya pun sempat berpikir dalam beberapa waktu terakhir. Bagaimana anak memandang hubungan antara anak dan orangtua? Apakah anak sukarela menerima kondisi yang demikian? Apakah tidak memberontak terhadap kondisi yang ada? Atau, berperan ganda. Di satu sisi baik kala berada dalam pantauan orangtua dan berontak kala berada di belakangnya?

Pergilah saya ke sebuah kota yang sudah menjadi bagian dari sejarah hidup saya, Jatinangor dan Bandung. Saat itu seorang kawan fakultas psikologi Unpad mengundang saya untuk singgah sejenak. Berbicara di hadapan kawan-kawan mahasiswa dari segenap kampus yang ada di Bandung. Seperti dulu, saya dinobatkan sebagai moderator. Saat itu acaranya tentang psikologi Islam yang membedah tentang generasi muda. Saya tidak ingat persis judul dari acara tersebut. Tapi setidaknya seperti itulah tema besarnya. Masih terpajang kenang-kenangannya di ruang tamu di rumah orangtua saya.

Saat bagian tanya-jawab, itulah yang paling ditunggu-tunggu. Selain mendapatkan hadiah buku yang telah disediakan oleh pembicara bagi orang yang bertanya, pun sebagai peserta itulah saatnya berkomentar untuk lebih memahami tentang materi yang dibicarakan. Boleh setuju dan boleh tidak setuju. Asalkan semuanya ada dasar pemikiran.

Saya mengingat dengan jelas seorang peserta diskusi itu. Dari dua sesi diskusi dirinya senantiasa untuk memotong pembicaraan untuk berpendapat. Inti dari pendapat itu adalah bahwa adanya anak sekarang ini dengan segala kondisinya bukanlah semata-mata karena anak itu sendiri melainkan juga ada campur tangan dari orangtua. Pada saat itu memang banyak membahas tentang perilaku anak yang menyimpang. Peserta yang masih muda itu merasa bahwa semua kesalahan dari perilaku menyimpang yang dilakukan anak ditimpakan seluruhnya kepada sang anak. Sedangkan orangtua berada di sisi luar anak sehingga tidak bersalah. Padahal, peran orangtua tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sang anak. Bagaimana halnya bila sang anak itu tidak berperilaku menyimpang? Menjadi orang yang berhasil dalam segala bidang. Menjadi orang pintar, kaya, ganteng atau cantik, dan taat beragama. Orangtua pun akan menepuk dada bangga dan berkata, “Itu anak saya. Sayalah yang mendidiknya sehingga dia menjadi orang sukses sekarang ini.”

Pada saat ini saya memandang bahwa anak senantiasa menjadi objek dari keadaan. Mereka tidak berhak untuk menentukan hal bahkan itu untuk dirinya sendiri. Semua ditentukan oleh orangtua. Tapi piciknya adalah ketika anak melakukan perilaku yang bertentangan dengan nilai yang ada maka orangtua tidak dikatakan berperan sedangkan ketika anak sukses bahkan karena usahanya sendiri tanpa dibantu orangtua, maka orangtua terkadang mengaku-aku bahwa kesuksesan sang anak karena jerih payah orangtua.

Ini sungguh tidak adil. Kalau mau, pisahkan tanggungjawab anak dengan orangtua. Apa yang dilakukan anak merupakan tanggungjawab anak seorang, begitupun bila anak sukses maka harus diakui bahwa itu merupakan karena usaha anak. Dari sini maka anak pun dituntut untuk bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukannya.

Bagi saya orangtua harus mengakui semuanya. Baik atau tidak baik penilaian masyarakat pada anak maka orangtua tetap mengakui bahwa disana terdapat peran orangtua. Di sini anak pun tetap diajar untuk bertanggungjawab atas tindakannya sendiri. Anak diikat sebagai anggota keluarga, menjadi bagian dari keluarga. Dengan begitu, dipahami bahwa apabila salah satu anggota keluarga melakukan tindakan yang menyimpang dari nilai yang berlaku maka bukan saja dirinya yang terkena imbasnya melainkan juga seluruh anggota keluarga. Tidak memandang siapa yang melakukan perilaku menyimpang itu adalah anak, orangtua, atau kerabat-saudara.

Pandangan ini nampak lebih berimbang dibandingkan dengan pandangan di awal-awal tulisan ini. Saya lebih cenderung untuk berpendapat bahwa hubungan orangtua-anak itu dilihat secara keseluruhan yang saling terkait yang bernama keluarga. Orangtua boleh dijunjung ketika dia menyayangi dan menghargai anak sebagai manusia sama seperti diri orangtua itu. Anak pun tidak direndahkan ketika dia menghormati dan menghargai orangtua. Semua ada perannya dan masing-masing orang bertanggungjawab terhadap peran yang dilakoninya.

Tangerang, 11 April 2008