Pada suatu waktu, hidup seorang raja yang mempunyai beberapa anak gadis yang cantik, tetapi anak gadisnya yang paling bungsulah yang paling cantik. Ia memiliki wajah yang sangat cantik dan selalu terlihat bercahaya. Ia bernama Mary. Di dekat istana raja terdapat hutan yang luas serta lebat dan di bawah satu pohon limau yang sudah tua ada sebuah sumur. Suatu hari yang panas, Putri Mary pergi bermain menuju hutan dan duduk di tepi pancuran yang airnya sangat dingin. Ketika sudah bosan sang Putri mengambil sebuah bola emas kemudian melemparkannya tinggi-tinggi lalu ia tangkap kembali. Bermain lempar bola adalah mainan kegemarannya.
Namun, suatu ketika bola emas sang putri tidak bisa ditangkapnya. Bola itu kemudian jatuh ke tanah dan menggelinding ke arah telaga, mata sang putri terus melihat arah bola emasnya, bola terus bergulir hingga akhirnya lenyap di telaga yang dalam, sampai dasar telaga itu pun tak terlihat. Sang Putri pun mulai menangis. Semakin lama tangisannya makin keras. Ketika ia masih menangis, terdengar suara seseorang berbicara padanya,”Apa yang membuatmu bersedih tuan putri? Tangisan tuan Putri sangat membuat saya terharu… Sang Putri melihat ke sekeliling mencari darimana arah suara tersebut, ia hanya melihat seekor katak besar dengan muka yang jelek di permukaan air. “Oh… apakah engkau yang tadi berbicara katak? Aku menangis karena bola emasku jatuh ke dalam telaga”. “Berhentilah menangis”, kata sang katak. Aku bisa membantumu mengambil bola emasmu, tapi apakah yang akan kau berikan padaku nanti?”, lanjut sang katak.
“Apapun yang kau minta akan ku berikan, perhiasan dan mutiaraku, bahkan aku akan berikan mahkota emas yang aku pakai ini”, kata sang putri. Sang katak menjawab, “aku tidak mau perhiasan, mutiara bahkan mahkota emasmu, tapi aku ingin kau mau menjadi teman pasanganku dan mendampingimu makan, minum dan menemanimu tidur. Jika kau berjanji memenuhi semua keinginanku, aku akan mengambilkan bola emasmu kembali”, kata sang katak. “Baik, aku janji akan memenuhi semua keinginanmu jika kau berhasil membawa bola emasku kembali.” Sang putri berpikir, bagaimana mungkin seekor katak yang bisa berbicara dapat hidup di darat dalam waktu yang lama. Ia hanya bisa bermain di air bersama katak lainnya sambil bernyanyi. Setelah sang putri berjanji, sang katak segera menyelam ke dalam telaga dan dalam waktu singkat ia kembali ke permukaan sambil membawa bola emas di mulutnya kemudian melemparkannya ke tanah.
Sang Putri merasa sangat senang karena bola emasnya ia dapatkan kembali. Sang Putri menangkap bola emasnya dan kemudian berlari pulang. “Tunggu… tunggu,” kata sang katak. “Bawa aku bersamamu, aku tidak dapat berlari secepat dirimu”. Tapi percuma saja sang katak berteriak memanggil sang putri, ia tetap berlari meninggalkan sang katak. Sang katak merasa sangat sedih dan kembal ke telaga kembali. Keesokan harinya, ketika sang Putri sedang duduk bersama ayahnya sambil makan siang, terdengar suara lompatan ditangga marmer. Sesampainya di tangga paling atas, terdengar ketukan pintu dan tangisan,”Putri, putri… bukakan pintu untukku”. Sang putri bergegas menuju pintu. Tapi ketika ia membuka pintu, ternyata di hadapannya sudah ada sang katak. Karena kaget ia segera menutup pintu keras-keras. Ia kembali duduk di meja makan dan kelihatan ketakutan. Sang Raja yang melihat anaknya ketakutan bertanya pada putrinya,”Apa yang engkau takutkan putriku? Apakah ada raksasa yang akan membawamu pergi? “Bukan ayah, bukan seorang raksasa tapi seekor katak yang menjijikkan”, kata sang putri. “Apa yang ia inginkan dari?” tanya sang raja pada putrinya.
Kemudian sang putri bercerita kembali kejadian yang menimpanya kemarin. “Aku tidak pernah berpikir ia akan datang ke istana ini..”, kata sang Putri. Tidak berapa lama, terdengar ketukan di pintu lagi. “Putri…, putri, bukakan pintu untukku. Apakah kau lupa dengan ucapan mu di telaga kemarin?” Akhirnya sang Raja berkata pada putrinya,”apa saja yang telah engkau janjikan haruslah ditepati. Ayo, bukakan pintu untuknya”. Dengan langkah yang berat, sang putri bungsu membuka pintu, lalu sang katak segera masuk dang mengikuti sang putri sampai ke meja makan. “Angkat aku dan biarkan duduk di sebelahmu”, kata sang katak. Atas perintah Raja, pengawal menyiapkan piring untuk katak di samping Putri Mary. Sang katak segera menyantap makanan di piring itu dengan menjulurkan lidahnya yang panjang. “Wah, benar-benar tidak punya aturan. Melihatnya saja membuat perasaanku tidak enak,” kata Putri Mary.
Sang Putri bergegas lari ke kamarnya. Kini ia merasa lega bisa melepaskan diri dari sang katak. Namun, tiba-tiba, ketika hendak membaringkan diri di tempat tidur…. “Kwoook!” ternyata sang katak sudah berada di atas tempat tidurnya. “Cukup katak! Meskipun aku sudah mengucapkan janji, tapi ini sudah keterlaluan!” Putri Mary sangat marah, lalu ia melemparkan katak itu ke lantai. Bruuk! Ajaib, tiba-tiba asap keluar dari tubuh katak. Dari dalam asap muncul seorang pangeran yang gagah. “Terima kasih Putri Mary… kau telah menyelamatkanku dari sihir seorang penyihir yang jahat. Karena kau telah melemparku, sihirnya lenyap dan aku kembali ke wujud semula.” Kata sang pangeran. “Maafkan aku karena telah mengingkari janji,” kata sang putri dengan penuh sesal. “Aku juga minta maaf. Aku sengaja membuatmu marah agar kau melemparkanku,” sahut sang Pangeran. Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya sang Pangeran dan Putri Mary mengikat janji setia dengan menikah dan merekapun hidup bahagia.
Pesan moral : Jangan pernah mempermainkan sebuah janji dan pikirkanlah dahulu janji-janji yang akan kita buat.
Disobek dari e-smartschool.com
Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan
02 April 2008
Pangeran Katak
Pada suatu waktu, hidup seorang raja yang mempunyai beberapa anak gadis yang cantik, tetapi anak gadisnya yang paling bungsulah yang paling cantik. Ia memiliki wajah yang sangat cantik dan selalu terlihat bercahaya. Ia bernama Mary. Di dekat istana raja terdapat hutan yang luas serta lebat dan di bawah satu pohon limau yang sudah tua ada sebuah sumur. Suatu hari yang panas, Putri Mary pergi bermain menuju hutan dan duduk di tepi pancuran yang airnya sangat dingin. Ketika sudah bosan sang Putri mengambil sebuah bola emas kemudian melemparkannya tinggi-tinggi lalu ia tangkap kembali. Bermain lempar bola adalah mainan kegemarannya.
Namun, suatu ketika bola emas sang putri tidak bisa ditangkapnya. Bola itu kemudian jatuh ke tanah dan menggelinding ke arah telaga, mata sang putri terus melihat arah bola emasnya, bola terus bergulir hingga akhirnya lenyap di telaga yang dalam, sampai dasar telaga itu pun tak terlihat. Sang Putri pun mulai menangis. Semakin lama tangisannya makin keras. Ketika ia masih menangis, terdengar suara seseorang berbicara padanya,”Apa yang membuatmu bersedih tuan putri? Tangisan tuan Putri sangat membuat saya terharu… Sang Putri melihat ke sekeliling mencari darimana arah suara tersebut, ia hanya melihat seekor katak besar dengan muka yang jelek di permukaan air. “Oh… apakah engkau yang tadi berbicara katak? Aku menangis karena bola emasku jatuh ke dalam telaga”. “Berhentilah menangis”, kata sang katak. Aku bisa membantumu mengambil bola emasmu, tapi apakah yang akan kau berikan padaku nanti?”, lanjut sang katak.
“Apapun yang kau minta akan ku berikan, perhiasan dan mutiaraku, bahkan aku akan berikan mahkota emas yang aku pakai ini”, kata sang putri. Sang katak menjawab, “aku tidak mau perhiasan, mutiara bahkan mahkota emasmu, tapi aku ingin kau mau menjadi teman pasanganku dan mendampingimu makan, minum dan menemanimu tidur. Jika kau berjanji memenuhi semua keinginanku, aku akan mengambilkan bola emasmu kembali”, kata sang katak. “Baik, aku janji akan memenuhi semua keinginanmu jika kau berhasil membawa bola emasku kembali.” Sang putri berpikir, bagaimana mungkin seekor katak yang bisa berbicara dapat hidup di darat dalam waktu yang lama. Ia hanya bisa bermain di air bersama katak lainnya sambil bernyanyi. Setelah sang putri berjanji, sang katak segera menyelam ke dalam telaga dan dalam waktu singkat ia kembali ke permukaan sambil membawa bola emas di mulutnya kemudian melemparkannya ke tanah.
Sang Putri merasa sangat senang karena bola emasnya ia dapatkan kembali. Sang Putri menangkap bola emasnya dan kemudian berlari pulang. “Tunggu… tunggu,” kata sang katak. “Bawa aku bersamamu, aku tidak dapat berlari secepat dirimu”. Tapi percuma saja sang katak berteriak memanggil sang putri, ia tetap berlari meninggalkan sang katak. Sang katak merasa sangat sedih dan kembal ke telaga kembali. Keesokan harinya, ketika sang Putri sedang duduk bersama ayahnya sambil makan siang, terdengar suara lompatan ditangga marmer. Sesampainya di tangga paling atas, terdengar ketukan pintu dan tangisan,”Putri, putri… bukakan pintu untukku”. Sang putri bergegas menuju pintu. Tapi ketika ia membuka pintu, ternyata di hadapannya sudah ada sang katak. Karena kaget ia segera menutup pintu keras-keras. Ia kembali duduk di meja makan dan kelihatan ketakutan. Sang Raja yang melihat anaknya ketakutan bertanya pada putrinya,”Apa yang engkau takutkan putriku? Apakah ada raksasa yang akan membawamu pergi? “Bukan ayah, bukan seorang raksasa tapi seekor katak yang menjijikkan”, kata sang putri. “Apa yang ia inginkan dari?” tanya sang raja pada putrinya.
Kemudian sang putri bercerita kembali kejadian yang menimpanya kemarin. “Aku tidak pernah berpikir ia akan datang ke istana ini..”, kata sang Putri. Tidak berapa lama, terdengar ketukan di pintu lagi. “Putri…, putri, bukakan pintu untukku. Apakah kau lupa dengan ucapan mu di telaga kemarin?” Akhirnya sang Raja berkata pada putrinya,”apa saja yang telah engkau janjikan haruslah ditepati. Ayo, bukakan pintu untuknya”. Dengan langkah yang berat, sang putri bungsu membuka pintu, lalu sang katak segera masuk dang mengikuti sang putri sampai ke meja makan. “Angkat aku dan biarkan duduk di sebelahmu”, kata sang katak. Atas perintah Raja, pengawal menyiapkan piring untuk katak di samping Putri Mary. Sang katak segera menyantap makanan di piring itu dengan menjulurkan lidahnya yang panjang. “Wah, benar-benar tidak punya aturan. Melihatnya saja membuat perasaanku tidak enak,” kata Putri Mary.
Sang Putri bergegas lari ke kamarnya. Kini ia merasa lega bisa melepaskan diri dari sang katak. Namun, tiba-tiba, ketika hendak membaringkan diri di tempat tidur…. “Kwoook!” ternyata sang katak sudah berada di atas tempat tidurnya. “Cukup katak! Meskipun aku sudah mengucapkan janji, tapi ini sudah keterlaluan!” Putri Mary sangat marah, lalu ia melemparkan katak itu ke lantai. Bruuk! Ajaib, tiba-tiba asap keluar dari tubuh katak. Dari dalam asap muncul seorang pangeran yang gagah. “Terima kasih Putri Mary… kau telah menyelamatkanku dari sihir seorang penyihir yang jahat. Karena kau telah melemparku, sihirnya lenyap dan aku kembali ke wujud semula.” Kata sang pangeran. “Maafkan aku karena telah mengingkari janji,” kata sang putri dengan penuh sesal. “Aku juga minta maaf. Aku sengaja membuatmu marah agar kau melemparkanku,” sahut sang Pangeran. Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya sang Pangeran dan Putri Mary mengikat janji setia dengan menikah dan merekapun hidup bahagia.
Pesan moral : Jangan pernah mempermainkan sebuah janji dan pikirkanlah dahulu janji-janji yang akan kita buat.
Disobek dari e-smartschool
Namun, suatu ketika bola emas sang putri tidak bisa ditangkapnya. Bola itu kemudian jatuh ke tanah dan menggelinding ke arah telaga, mata sang putri terus melihat arah bola emasnya, bola terus bergulir hingga akhirnya lenyap di telaga yang dalam, sampai dasar telaga itu pun tak terlihat. Sang Putri pun mulai menangis. Semakin lama tangisannya makin keras. Ketika ia masih menangis, terdengar suara seseorang berbicara padanya,”Apa yang membuatmu bersedih tuan putri? Tangisan tuan Putri sangat membuat saya terharu… Sang Putri melihat ke sekeliling mencari darimana arah suara tersebut, ia hanya melihat seekor katak besar dengan muka yang jelek di permukaan air. “Oh… apakah engkau yang tadi berbicara katak? Aku menangis karena bola emasku jatuh ke dalam telaga”. “Berhentilah menangis”, kata sang katak. Aku bisa membantumu mengambil bola emasmu, tapi apakah yang akan kau berikan padaku nanti?”, lanjut sang katak.
“Apapun yang kau minta akan ku berikan, perhiasan dan mutiaraku, bahkan aku akan berikan mahkota emas yang aku pakai ini”, kata sang putri. Sang katak menjawab, “aku tidak mau perhiasan, mutiara bahkan mahkota emasmu, tapi aku ingin kau mau menjadi teman pasanganku dan mendampingimu makan, minum dan menemanimu tidur. Jika kau berjanji memenuhi semua keinginanku, aku akan mengambilkan bola emasmu kembali”, kata sang katak. “Baik, aku janji akan memenuhi semua keinginanmu jika kau berhasil membawa bola emasku kembali.” Sang putri berpikir, bagaimana mungkin seekor katak yang bisa berbicara dapat hidup di darat dalam waktu yang lama. Ia hanya bisa bermain di air bersama katak lainnya sambil bernyanyi. Setelah sang putri berjanji, sang katak segera menyelam ke dalam telaga dan dalam waktu singkat ia kembali ke permukaan sambil membawa bola emas di mulutnya kemudian melemparkannya ke tanah.
Sang Putri merasa sangat senang karena bola emasnya ia dapatkan kembali. Sang Putri menangkap bola emasnya dan kemudian berlari pulang. “Tunggu… tunggu,” kata sang katak. “Bawa aku bersamamu, aku tidak dapat berlari secepat dirimu”. Tapi percuma saja sang katak berteriak memanggil sang putri, ia tetap berlari meninggalkan sang katak. Sang katak merasa sangat sedih dan kembal ke telaga kembali. Keesokan harinya, ketika sang Putri sedang duduk bersama ayahnya sambil makan siang, terdengar suara lompatan ditangga marmer. Sesampainya di tangga paling atas, terdengar ketukan pintu dan tangisan,”Putri, putri… bukakan pintu untukku”. Sang putri bergegas menuju pintu. Tapi ketika ia membuka pintu, ternyata di hadapannya sudah ada sang katak. Karena kaget ia segera menutup pintu keras-keras. Ia kembali duduk di meja makan dan kelihatan ketakutan. Sang Raja yang melihat anaknya ketakutan bertanya pada putrinya,”Apa yang engkau takutkan putriku? Apakah ada raksasa yang akan membawamu pergi? “Bukan ayah, bukan seorang raksasa tapi seekor katak yang menjijikkan”, kata sang putri. “Apa yang ia inginkan dari?” tanya sang raja pada putrinya.
Kemudian sang putri bercerita kembali kejadian yang menimpanya kemarin. “Aku tidak pernah berpikir ia akan datang ke istana ini..”, kata sang Putri. Tidak berapa lama, terdengar ketukan di pintu lagi. “Putri…, putri, bukakan pintu untukku. Apakah kau lupa dengan ucapan mu di telaga kemarin?” Akhirnya sang Raja berkata pada putrinya,”apa saja yang telah engkau janjikan haruslah ditepati. Ayo, bukakan pintu untuknya”. Dengan langkah yang berat, sang putri bungsu membuka pintu, lalu sang katak segera masuk dang mengikuti sang putri sampai ke meja makan. “Angkat aku dan biarkan duduk di sebelahmu”, kata sang katak. Atas perintah Raja, pengawal menyiapkan piring untuk katak di samping Putri Mary. Sang katak segera menyantap makanan di piring itu dengan menjulurkan lidahnya yang panjang. “Wah, benar-benar tidak punya aturan. Melihatnya saja membuat perasaanku tidak enak,” kata Putri Mary.
Sang Putri bergegas lari ke kamarnya. Kini ia merasa lega bisa melepaskan diri dari sang katak. Namun, tiba-tiba, ketika hendak membaringkan diri di tempat tidur…. “Kwoook!” ternyata sang katak sudah berada di atas tempat tidurnya. “Cukup katak! Meskipun aku sudah mengucapkan janji, tapi ini sudah keterlaluan!” Putri Mary sangat marah, lalu ia melemparkan katak itu ke lantai. Bruuk! Ajaib, tiba-tiba asap keluar dari tubuh katak. Dari dalam asap muncul seorang pangeran yang gagah. “Terima kasih Putri Mary… kau telah menyelamatkanku dari sihir seorang penyihir yang jahat. Karena kau telah melemparku, sihirnya lenyap dan aku kembali ke wujud semula.” Kata sang pangeran. “Maafkan aku karena telah mengingkari janji,” kata sang putri dengan penuh sesal. “Aku juga minta maaf. Aku sengaja membuatmu marah agar kau melemparkanku,” sahut sang Pangeran. Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya sang Pangeran dan Putri Mary mengikat janji setia dengan menikah dan merekapun hidup bahagia.
Pesan moral : Jangan pernah mempermainkan sebuah janji dan pikirkanlah dahulu janji-janji yang akan kita buat.
Disobek dari e-smartschool
28 Maret 2008
Ubet Ingin Jadi Arsitek
Cerita anak Budiyanto Dwi Prasetyo
SORE yang cerah. Matahari jingga sudah berada di sebelah barat. Angin berembus perlahan memasuki jendela kamar Ubet yang sengaja dibuka lebar-lebar. Di dalam kamarnya Ubet sedang asyik menggambar. Ubet paling senang menggambar rumah. Ia sangat ingin seperti ayahnya yang pandai menggambar rumah.
Ayah Ubet adalah seorang arsitek yang kerjanya menggambar rumah. Ayah bisa menggambar rumah dengan berbagai bentuk dan ukuran. Kata ayah, gambar rumah buatannya dipakai sebagai model untuk membangun rumah sungguhan. Rumah Ubet adalah hasil gambar buatan ayah. Ubet bangga sekali memiliki ayah yang pandai menggambar rumah.
"Jika sudah besar nanti, ayah yakin kamu bisa bikin gambar rumah yang lebih bagus lagi," kata ayah suatu ketika. Mendengar itu, Ubet hanya senyum-senyum saja. Ah, mana mungkin aku bisa membuat gambar rumah seperti ayah? Ubet bertanya dalam hati.
"Asalkan kamu mau terus belajar dan tidak pernah menyerah!" lanjut ayah seperti tahu apa yang dipikirkan anaknya itu. Ubet pun menjadi semangat untuk belajar menggambar rumah.
Seperti di sore ini. Ubet masih bergelut dengan kertas gambar, pensil, penghapus, dan pengaris. Gaya Ubet sudah mirip ayah kalau sedang menggambar. Garis sana, garis sini. Coret sana, coret sini. Hapus sana, hapus sini, sampai akhirnya Ubet kelelahan sendiri.
Kertas-kertas berhamburan di lantai kamar. Ubet seringkali gagal menggambar rumah. Dalam satu kali menggambar Ubet bisa menghabiskan delapan sampai sepuluh lembar kertas gambar. Kertas itu memang mudah didapat. Ubet tinggal mengambilnya di ruang kerja ayah di rumah. Ayah memang menyimpan banyak kertas gambar di ruang kerjanya. Biasanya ayah menggambar pada malam hari. Sedangkan pagi hingga menjelang malam ayah berada di kantornya di pusat kota. Jadi Ubet bisa leluasa mengambil kertas tanpa sepengetahuan ayah.
"Wah, selesai juga gambar rumah buatanku, he he he," Ubet menyeringai sendirian sambil matanya tak henti-henti memandangi gambar rumah buatannya itu. Ubet yakin kalau gambarnya kali ini adalah paling bagus dari gambar-gambar yang pernah ia buat sebelumnya.
Gambar-gambar yang sudah jadi, biasanya disimpan Ubet di dalam laci meja belajarnya. Ubet masih malu untuk menunjukkan gambar-gambar itu kepada orang lain. Termasuk pada ayahnya. Dan Ubet langsung teringat Andi, teman sekelasnya, yang selalu menanyakan gambar-gambar buatannya. Ubet memang sering bercerita pada Andi kalau ia senang menggambar rumah seperti ayahnya.
"Besok akan kutunjukkan gambar ini pada Andi, pasti dia keheranan, he he he," kembali Ubet tertawa sendiri.
"Ubet, mandi dulu sana. Sudah hampir malam lo!" teriak ibu dari balik pintu kamarnya. Ubet tersadar sudah terlalu lama memelototi gambar rumah buatannya itu. Setelah membereskan semua peralatan gambar, ia pun bergegas mandi.
***
Esoknya, Andi benar-benar kaget melihat gambar rumah buatan Ubet. Andi benar-benar tak menyangka kalau Ubet bisa menggambar sebagus itu. Rumah yang digambar Ubet adalah rumah mungil dengan halaman yang luas. Atapnya terbuat dari genting dan memiliki cerobong asap tepat di sisi kirinya. Ubet pun memberi warna pada rumah itu. Gentingnya berwarna jingga, temboknya biru, pintunya cokelat, rumput di halamannya hijau, dan pagarnya berwarna kuning. Halaman rumah itu pun diberi gambar bunga-bunga dalam pot yang beraneka warna.
"Ini gambar rumah paling bagus yang pernah aku lihat," kata Andi yang masih terkagum-kagum.
"Ah, kamu jangan mengejek begitu. Aku jadi malu. Sini gambarnya!" sahut Ubet sambil tangannya menyambar kertas dari tangan Andi. Dan kini gambar itu sudah dipegang Ubet.
"Oh iya, kenapa kamu tidak mengirimkannya ke koran? Kan, sedang ada lomba menggambar untuk anak-anak. Hari ini batas akhir pengiriman. Kamu nggak mau mencobanya, Bet?"
Tiba-tiba Andi teringat lomba menggambar di koran yang sering ia baca di rumah.
"Ah, gambar seperti ini mana bisa menang. Lagi pula, tujuanku menggambar kan, hanya untuk belajar saja. Tidak untuk dilombakan."
"Ayolah, Bet. Aku bisa membantumu ke kantor pos untuk mengirimkan gambarmu. Hadiahnya uang seratus ribu, lo?" kata Andi coba meyakinkan sahabatnya itu. Dan akhirnya, dalam perjalanan pulang dari sekolah, mereka sepakat mampir ke kantor pos terdekat untuk mengirimkan gambar rumah buatan Ubet ke kantor redaksi koran.
***
Minggu pagi, Ubet mendapatkan hukuman dari ayah karena telah mengambil kertas gambar tanpa izin. Ayah jadi kehabisan kertas gambar. Padahal, hari itu juga ayah harus membuat gambar rumah untuk segera diserahkan di kantor keesokan harinya. Tetapi, kertas gambarnya habis dipakai Ubet.
Ayah menghukum Ubet dengan menghentikan uang jajan selama seminggu. Hukuman ini sudah sering diterima Ubet sebagai sanksi jika Ubet nakal.
"Maafkan Ubet, ayah. Ubet berjanji tak akan lagi mengambil kertas gambar tanpa izin ayah," kata Ubet sambil menangis sesenggukan.
"Ayah sudah memafkanmu sebelum kamu minta maaf, Bet. Tapi, hukuman harus tetap dijalani. Ini sebuah pelajaran untuk bertanggung jawab, nak. Kamu mengerti?" kata ayah. Ubet mengangguk sambil terus menangis. Ibu yang melihat kejadian ini tak bisa berkata apa-apa. Ibu hanya memeluk Ubet dan mengingatkan ayah untuk terus bersabar.
Saat itu juga ayah hendak bergegas ke toko kertas untuk membeli kertas gambar. Tiba-tiba terdengar suara Andi dari balik pintu rumah Ubet.
"Ubeeet, gambarmu menang!" teriak Andi. Ayah membukakan pintu. Andi langsung masuk sambil membawa koran edisi Minggu dan menghampiri Ubet.
"Ini, gambarmu dimuat koran hari ini. Kamu dapat hadiah seratus ribu, Ubet!" kata Andi berseri-seri sambil menujukkan koran itu kepada Ubet.
Ubet mengucek-ucek kedua matanya yang masih berair, seperti tak percaya kalau gambarnya menang. Senyum Ubet pun mengembang. Ayah dan ibu berebutan melihat koran itu. Ayah terkejut sekali melihat gambar itu. Begitu pula Ibu.
Tiba-tiba Ubet berkata, "Ayah, hadiah lomba ini semuanya Ubet berikan pada ayah untuk mengganti kertas gambar yang Ubet pakai selama ini!" Ayah malah memeluk anak satu-satunya itu. Ia bangga bukan main. Selain berbakat menggambar, Ubet ternyata juga bertanggung jawab akan perbuatannya.
"Tidak nak, hadiah itu milikmu. Pergunakanlah untuk keperluanmu. Termasuk untuk mengganti hukuman uang jajanmu selama seminggu itu," kata ayah masih memeluk Ubet. Dalam hatinya, Ubet berjanji besok ia akan membeli kertas gambar sendiri untuk membuat gambar-gambar rumah buatannya. Ubet sangat ingin menjadi Arsitek, seperti ayahnya.
Penulis cerita anak tinggal di Tangerang
Disobek dari Koran Lampung Post Edisi Minggu, 15 Mei 2005
SORE yang cerah. Matahari jingga sudah berada di sebelah barat. Angin berembus perlahan memasuki jendela kamar Ubet yang sengaja dibuka lebar-lebar. Di dalam kamarnya Ubet sedang asyik menggambar. Ubet paling senang menggambar rumah. Ia sangat ingin seperti ayahnya yang pandai menggambar rumah.
Ayah Ubet adalah seorang arsitek yang kerjanya menggambar rumah. Ayah bisa menggambar rumah dengan berbagai bentuk dan ukuran. Kata ayah, gambar rumah buatannya dipakai sebagai model untuk membangun rumah sungguhan. Rumah Ubet adalah hasil gambar buatan ayah. Ubet bangga sekali memiliki ayah yang pandai menggambar rumah.
"Jika sudah besar nanti, ayah yakin kamu bisa bikin gambar rumah yang lebih bagus lagi," kata ayah suatu ketika. Mendengar itu, Ubet hanya senyum-senyum saja. Ah, mana mungkin aku bisa membuat gambar rumah seperti ayah? Ubet bertanya dalam hati.
"Asalkan kamu mau terus belajar dan tidak pernah menyerah!" lanjut ayah seperti tahu apa yang dipikirkan anaknya itu. Ubet pun menjadi semangat untuk belajar menggambar rumah.
Seperti di sore ini. Ubet masih bergelut dengan kertas gambar, pensil, penghapus, dan pengaris. Gaya Ubet sudah mirip ayah kalau sedang menggambar. Garis sana, garis sini. Coret sana, coret sini. Hapus sana, hapus sini, sampai akhirnya Ubet kelelahan sendiri.
Kertas-kertas berhamburan di lantai kamar. Ubet seringkali gagal menggambar rumah. Dalam satu kali menggambar Ubet bisa menghabiskan delapan sampai sepuluh lembar kertas gambar. Kertas itu memang mudah didapat. Ubet tinggal mengambilnya di ruang kerja ayah di rumah. Ayah memang menyimpan banyak kertas gambar di ruang kerjanya. Biasanya ayah menggambar pada malam hari. Sedangkan pagi hingga menjelang malam ayah berada di kantornya di pusat kota. Jadi Ubet bisa leluasa mengambil kertas tanpa sepengetahuan ayah.
"Wah, selesai juga gambar rumah buatanku, he he he," Ubet menyeringai sendirian sambil matanya tak henti-henti memandangi gambar rumah buatannya itu. Ubet yakin kalau gambarnya kali ini adalah paling bagus dari gambar-gambar yang pernah ia buat sebelumnya.
Gambar-gambar yang sudah jadi, biasanya disimpan Ubet di dalam laci meja belajarnya. Ubet masih malu untuk menunjukkan gambar-gambar itu kepada orang lain. Termasuk pada ayahnya. Dan Ubet langsung teringat Andi, teman sekelasnya, yang selalu menanyakan gambar-gambar buatannya. Ubet memang sering bercerita pada Andi kalau ia senang menggambar rumah seperti ayahnya.
"Besok akan kutunjukkan gambar ini pada Andi, pasti dia keheranan, he he he," kembali Ubet tertawa sendiri.
"Ubet, mandi dulu sana. Sudah hampir malam lo!" teriak ibu dari balik pintu kamarnya. Ubet tersadar sudah terlalu lama memelototi gambar rumah buatannya itu. Setelah membereskan semua peralatan gambar, ia pun bergegas mandi.
***
Esoknya, Andi benar-benar kaget melihat gambar rumah buatan Ubet. Andi benar-benar tak menyangka kalau Ubet bisa menggambar sebagus itu. Rumah yang digambar Ubet adalah rumah mungil dengan halaman yang luas. Atapnya terbuat dari genting dan memiliki cerobong asap tepat di sisi kirinya. Ubet pun memberi warna pada rumah itu. Gentingnya berwarna jingga, temboknya biru, pintunya cokelat, rumput di halamannya hijau, dan pagarnya berwarna kuning. Halaman rumah itu pun diberi gambar bunga-bunga dalam pot yang beraneka warna.
"Ini gambar rumah paling bagus yang pernah aku lihat," kata Andi yang masih terkagum-kagum.
"Ah, kamu jangan mengejek begitu. Aku jadi malu. Sini gambarnya!" sahut Ubet sambil tangannya menyambar kertas dari tangan Andi. Dan kini gambar itu sudah dipegang Ubet.
"Oh iya, kenapa kamu tidak mengirimkannya ke koran? Kan, sedang ada lomba menggambar untuk anak-anak. Hari ini batas akhir pengiriman. Kamu nggak mau mencobanya, Bet?"
Tiba-tiba Andi teringat lomba menggambar di koran yang sering ia baca di rumah.
"Ah, gambar seperti ini mana bisa menang. Lagi pula, tujuanku menggambar kan, hanya untuk belajar saja. Tidak untuk dilombakan."
"Ayolah, Bet. Aku bisa membantumu ke kantor pos untuk mengirimkan gambarmu. Hadiahnya uang seratus ribu, lo?" kata Andi coba meyakinkan sahabatnya itu. Dan akhirnya, dalam perjalanan pulang dari sekolah, mereka sepakat mampir ke kantor pos terdekat untuk mengirimkan gambar rumah buatan Ubet ke kantor redaksi koran.
***
Minggu pagi, Ubet mendapatkan hukuman dari ayah karena telah mengambil kertas gambar tanpa izin. Ayah jadi kehabisan kertas gambar. Padahal, hari itu juga ayah harus membuat gambar rumah untuk segera diserahkan di kantor keesokan harinya. Tetapi, kertas gambarnya habis dipakai Ubet.
Ayah menghukum Ubet dengan menghentikan uang jajan selama seminggu. Hukuman ini sudah sering diterima Ubet sebagai sanksi jika Ubet nakal.
"Maafkan Ubet, ayah. Ubet berjanji tak akan lagi mengambil kertas gambar tanpa izin ayah," kata Ubet sambil menangis sesenggukan.
"Ayah sudah memafkanmu sebelum kamu minta maaf, Bet. Tapi, hukuman harus tetap dijalani. Ini sebuah pelajaran untuk bertanggung jawab, nak. Kamu mengerti?" kata ayah. Ubet mengangguk sambil terus menangis. Ibu yang melihat kejadian ini tak bisa berkata apa-apa. Ibu hanya memeluk Ubet dan mengingatkan ayah untuk terus bersabar.
Saat itu juga ayah hendak bergegas ke toko kertas untuk membeli kertas gambar. Tiba-tiba terdengar suara Andi dari balik pintu rumah Ubet.
"Ubeeet, gambarmu menang!" teriak Andi. Ayah membukakan pintu. Andi langsung masuk sambil membawa koran edisi Minggu dan menghampiri Ubet.
"Ini, gambarmu dimuat koran hari ini. Kamu dapat hadiah seratus ribu, Ubet!" kata Andi berseri-seri sambil menujukkan koran itu kepada Ubet.
Ubet mengucek-ucek kedua matanya yang masih berair, seperti tak percaya kalau gambarnya menang. Senyum Ubet pun mengembang. Ayah dan ibu berebutan melihat koran itu. Ayah terkejut sekali melihat gambar itu. Begitu pula Ibu.
Tiba-tiba Ubet berkata, "Ayah, hadiah lomba ini semuanya Ubet berikan pada ayah untuk mengganti kertas gambar yang Ubet pakai selama ini!" Ayah malah memeluk anak satu-satunya itu. Ia bangga bukan main. Selain berbakat menggambar, Ubet ternyata juga bertanggung jawab akan perbuatannya.
"Tidak nak, hadiah itu milikmu. Pergunakanlah untuk keperluanmu. Termasuk untuk mengganti hukuman uang jajanmu selama seminggu itu," kata ayah masih memeluk Ubet. Dalam hatinya, Ubet berjanji besok ia akan membeli kertas gambar sendiri untuk membuat gambar-gambar rumah buatannya. Ubet sangat ingin menjadi Arsitek, seperti ayahnya.
Penulis cerita anak tinggal di Tangerang
Disobek dari Koran Lampung Post Edisi Minggu, 15 Mei 2005
Es Krim untuk Sally
Cerita Anak Budiyanto Dwi Prasetyo
SALLY sedang asyik duduk di atas pohon jambu di halaman rumahnya. Seragam putih-merahnya belum lagi diganti. Sepatunya pun masih dia pakai. Tangan Sally sibuk memegangi es krim cokelat yang sedari tadi terus-terusan dijilatinya.
Siang itu terik sekali. Hawa panasnya membuat kepala berdenyut-denyut. Tapi, siang yang panas justru menambah es krim terasa lebih nikmat. Sally sampai-sampai membeli lima batang es krim. Sally sangat suka es krim. Jatah uang untuk ditabung hari ini pun habis untuk membeli es krim.
Sally belum pernah beli dan makan es krim sebanyak itu. Mama selalu melarang Sally makan es krim. "Es krim kan harganya mahal. Es krim juga bisa bikin sakit gigi," kata Mama suatu hari.
"Lo, apa hubungannya es krim dengan sakit gigi?" tanya Sally heran pada Mamanya.
"Es krim itu dingin, Sally. Kalau digigit bisa membuat gigi kamu terasa nyeri," ujar Mama menjelaskan. "Apalagi kalau kamu tidak sikat gigi sehabis makan es krim. Rasa manis yang tertinggal di mulut atau gigimu akan berubah jadi zat asam. Zat asam itu bisa merusak gigi. Gigi kamu bisa nyeri karena bolong," lanjut Mama sambil menyeringai, memperlihatkan giginya ke Sally.
"Ah, dasar Mama aja yang pelit. Es krim memang mahal. Tapi kan rasanya enak sekali. Mama hanya mementingkan dirinya saja. Selalu memerintah dan tak pernah mau dengar keinginanku," pikir Sally.
Dan cuaca panas siang itu membuat es krim mudah meleleh. Beberapa kali tetesan cokelat dari es krim menodai seragam Sally. Tapi Sally tak peduli. Ia malah asyik menjilati seragamnya yang kena tetesan es krim dengan lidahnya. Walhasil, baju seragam Sally jadi kotor seperti terkena lumpur.
"Biarin aja mumpung nggak ada Mama, hihihi!" gumam Sally sambil meringis menjilat-jilat sebuah tetesan cokelat lagi di seragamnya. Sally tak mungkin bisa melakukan itu jika ada Mama. Kalau Mama tahu tentu bisa marah besar. Biasanya, begitu pulang sekolah Mama langsung menyuruh Sally mengganti seragam dan mencopot sepatunya. Sehabis itu, makan siang dan mengulang pelajaran yang tadi pagi diajarkan Bu Guru di kelas. Lalu tidur siang. Begitu terus setiap hari. Dan yang pasti, tak ada es krim. "Huh, membosankan...!" batin Sally.
Tapi, sekarang Sally bebas. Hari ini Mama Sally sedang pergi ke rumah Bibi Lisa yang baru saja melahirkan anaknya. Mama baru pulang nanti malam.
Tadi pagi Mama memberikan kunci kepada Sally supaya saat pulang sekolah ia bisa langsung masuk ke dalam rumah. Saat berangkat pun Mama dan Sally berbarengan. Sally ke sekolah dan Mama ke rumah Bibi Lisa.
"Nanti, pulang sekolah kamu langsung pulang. Ganti seragam, copot sepatu, makan siang dan mengulang pelajaran ya," perintah Mama. "Dan jangan lupa tidur siang," kata mama sambil mengusap-usap rambut Sally.
"Iya, Ma, tenang aja. Pokoknya beres deh!" jawab Sally sambil mengedipkan mata kirinya.
***
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Mama baru saja datang dari rumah Bibi Lisa. "Tok, tok, tok!" Pintu diketuk-ketuk Mama dari luar.
"Sally, Mama pulang nih, mau oleh-oleh nggak?" kata Mama sambil terus mengetuk pintu. Dari dalam rumah tak ada jawaban. Mama Jadi bingung.
"Sally, kamu lagi ngapain sih, bukain pintu dong!" Mama terus saja teriak-teriak. Tiba-tiba tangan Mama menyentuh daun pintu. Ternyata pintu tidak di kunci. Mama tambah bingung dan khawatir. Suasana di dalam rumah gelap.
"Sally, kamu di mana? Sal, Sally?" Mama langsung masuk dan menuju kamar Sally. Mama kaget setengah mati waktu lampu kamar Sally ia nyalakan. Mama melihat Sally berada di tempat tidur dengan masih berseragam sekolah putih merah dan memakai sepatu. Sally terus-terusan memegangi pipinya sambil meringis.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Mama penuh selidik.
"Anu Ma, Aduuh rasanya nyeri sekali," jawab Sally sambil terus meringis. Pipi Sally yang sebelah kiri tampak bengkak. Ia terus memegangi dan mengusap-usap pipinya yang jadi seperti bakpau itu. "Hatchih..!" dan Sally pun bersin. Ingus mengalir dari kedua lubang hidungnya.
"Hmm pasti kamu kebanyakan makan es krim. Lihat, seragammu kotor sekali. Pipimu bengkak dan badanmu demam," Mama meletakkan telapak tangannya di kening dan leher Sally. "Kamu sakit gigi dan kena flu, Nak," kata Mama sambil membersihkan hidung dan mulut Sally.
Mama mengganti seragam Sally dengan baju tidur. Sepatu dan kaus kakinya pun sudah dicopot Mama. Kepala Sally dikompres dengan handuk hangat. Dan pipi kiri Sally yang bengkak itu juga sudah ditempel Koyo. Mama duduk di pingir tempat tidur sambil mengusap-usap rambut Sally.
Sambil meringis menahan nyeri Sally bercerita kepada Mama, tadi siang ia beli lima batang es krim dan memakannya sendirian di atas pohon jambu di halaman rumahnya. Lantas, ia bermain di kamar dan membaca komik sampai ketiduran. Sally tidak gosok gigi, belum ganti seragam dan copot sepatu saat tidur. Sampai ketika Sally bangun, giginya yang sebelah kiri terasa nyeri dan tubuhnya menggigil sambil bersin-bersin.
Sally menyesali semua perbuatannya. Ia minta maaf pada Mama dan berjanji tidak akan makan es krim banyak-banyak. Sally mengerti bahwa perintah-perintah Mama selama ini adalah demi kebaikan dirinya. Sambil terharu Mama memeluk Sally yang masih berbaring itu. Tiba-tiba Mama seperti teringat sesuatu.
"Wah, padahal Mama bawa oleh-oleh banyak lo, Sal," kata mama sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Tadi dibekali Pamanmu sebelum pulang dari menengok Bibi Lisa. Mama semakin bikin Sally penasaran.
"Apa itu, Ma?"
"Es Krim."
"Hah?" Sally hanya terbengong menatap sekotak besar es krim yang dipegang Mama. n M-2
Budiyanto Dwi Prasetyo, Penulis cerita anak tinggal di Tangerang.
Disobek dari Koran Lampung Post Edisi Minggu, 27 Maret 2005
SALLY sedang asyik duduk di atas pohon jambu di halaman rumahnya. Seragam putih-merahnya belum lagi diganti. Sepatunya pun masih dia pakai. Tangan Sally sibuk memegangi es krim cokelat yang sedari tadi terus-terusan dijilatinya.
Siang itu terik sekali. Hawa panasnya membuat kepala berdenyut-denyut. Tapi, siang yang panas justru menambah es krim terasa lebih nikmat. Sally sampai-sampai membeli lima batang es krim. Sally sangat suka es krim. Jatah uang untuk ditabung hari ini pun habis untuk membeli es krim.
Sally belum pernah beli dan makan es krim sebanyak itu. Mama selalu melarang Sally makan es krim. "Es krim kan harganya mahal. Es krim juga bisa bikin sakit gigi," kata Mama suatu hari.
"Lo, apa hubungannya es krim dengan sakit gigi?" tanya Sally heran pada Mamanya.
"Es krim itu dingin, Sally. Kalau digigit bisa membuat gigi kamu terasa nyeri," ujar Mama menjelaskan. "Apalagi kalau kamu tidak sikat gigi sehabis makan es krim. Rasa manis yang tertinggal di mulut atau gigimu akan berubah jadi zat asam. Zat asam itu bisa merusak gigi. Gigi kamu bisa nyeri karena bolong," lanjut Mama sambil menyeringai, memperlihatkan giginya ke Sally.
"Ah, dasar Mama aja yang pelit. Es krim memang mahal. Tapi kan rasanya enak sekali. Mama hanya mementingkan dirinya saja. Selalu memerintah dan tak pernah mau dengar keinginanku," pikir Sally.
Dan cuaca panas siang itu membuat es krim mudah meleleh. Beberapa kali tetesan cokelat dari es krim menodai seragam Sally. Tapi Sally tak peduli. Ia malah asyik menjilati seragamnya yang kena tetesan es krim dengan lidahnya. Walhasil, baju seragam Sally jadi kotor seperti terkena lumpur.
"Biarin aja mumpung nggak ada Mama, hihihi!" gumam Sally sambil meringis menjilat-jilat sebuah tetesan cokelat lagi di seragamnya. Sally tak mungkin bisa melakukan itu jika ada Mama. Kalau Mama tahu tentu bisa marah besar. Biasanya, begitu pulang sekolah Mama langsung menyuruh Sally mengganti seragam dan mencopot sepatunya. Sehabis itu, makan siang dan mengulang pelajaran yang tadi pagi diajarkan Bu Guru di kelas. Lalu tidur siang. Begitu terus setiap hari. Dan yang pasti, tak ada es krim. "Huh, membosankan...!" batin Sally.
Tapi, sekarang Sally bebas. Hari ini Mama Sally sedang pergi ke rumah Bibi Lisa yang baru saja melahirkan anaknya. Mama baru pulang nanti malam.
Tadi pagi Mama memberikan kunci kepada Sally supaya saat pulang sekolah ia bisa langsung masuk ke dalam rumah. Saat berangkat pun Mama dan Sally berbarengan. Sally ke sekolah dan Mama ke rumah Bibi Lisa.
"Nanti, pulang sekolah kamu langsung pulang. Ganti seragam, copot sepatu, makan siang dan mengulang pelajaran ya," perintah Mama. "Dan jangan lupa tidur siang," kata mama sambil mengusap-usap rambut Sally.
"Iya, Ma, tenang aja. Pokoknya beres deh!" jawab Sally sambil mengedipkan mata kirinya.
***
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Mama baru saja datang dari rumah Bibi Lisa. "Tok, tok, tok!" Pintu diketuk-ketuk Mama dari luar.
"Sally, Mama pulang nih, mau oleh-oleh nggak?" kata Mama sambil terus mengetuk pintu. Dari dalam rumah tak ada jawaban. Mama Jadi bingung.
"Sally, kamu lagi ngapain sih, bukain pintu dong!" Mama terus saja teriak-teriak. Tiba-tiba tangan Mama menyentuh daun pintu. Ternyata pintu tidak di kunci. Mama tambah bingung dan khawatir. Suasana di dalam rumah gelap.
"Sally, kamu di mana? Sal, Sally?" Mama langsung masuk dan menuju kamar Sally. Mama kaget setengah mati waktu lampu kamar Sally ia nyalakan. Mama melihat Sally berada di tempat tidur dengan masih berseragam sekolah putih merah dan memakai sepatu. Sally terus-terusan memegangi pipinya sambil meringis.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Mama penuh selidik.
"Anu Ma, Aduuh rasanya nyeri sekali," jawab Sally sambil terus meringis. Pipi Sally yang sebelah kiri tampak bengkak. Ia terus memegangi dan mengusap-usap pipinya yang jadi seperti bakpau itu. "Hatchih..!" dan Sally pun bersin. Ingus mengalir dari kedua lubang hidungnya.
"Hmm pasti kamu kebanyakan makan es krim. Lihat, seragammu kotor sekali. Pipimu bengkak dan badanmu demam," Mama meletakkan telapak tangannya di kening dan leher Sally. "Kamu sakit gigi dan kena flu, Nak," kata Mama sambil membersihkan hidung dan mulut Sally.
Mama mengganti seragam Sally dengan baju tidur. Sepatu dan kaus kakinya pun sudah dicopot Mama. Kepala Sally dikompres dengan handuk hangat. Dan pipi kiri Sally yang bengkak itu juga sudah ditempel Koyo. Mama duduk di pingir tempat tidur sambil mengusap-usap rambut Sally.
Sambil meringis menahan nyeri Sally bercerita kepada Mama, tadi siang ia beli lima batang es krim dan memakannya sendirian di atas pohon jambu di halaman rumahnya. Lantas, ia bermain di kamar dan membaca komik sampai ketiduran. Sally tidak gosok gigi, belum ganti seragam dan copot sepatu saat tidur. Sampai ketika Sally bangun, giginya yang sebelah kiri terasa nyeri dan tubuhnya menggigil sambil bersin-bersin.
Sally menyesali semua perbuatannya. Ia minta maaf pada Mama dan berjanji tidak akan makan es krim banyak-banyak. Sally mengerti bahwa perintah-perintah Mama selama ini adalah demi kebaikan dirinya. Sambil terharu Mama memeluk Sally yang masih berbaring itu. Tiba-tiba Mama seperti teringat sesuatu.
"Wah, padahal Mama bawa oleh-oleh banyak lo, Sal," kata mama sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Tadi dibekali Pamanmu sebelum pulang dari menengok Bibi Lisa. Mama semakin bikin Sally penasaran.
"Apa itu, Ma?"
"Es Krim."
"Hah?" Sally hanya terbengong menatap sekotak besar es krim yang dipegang Mama. n M-2
Budiyanto Dwi Prasetyo, Penulis cerita anak tinggal di Tangerang.
Disobek dari Koran Lampung Post Edisi Minggu, 27 Maret 2005
Sepasang Ikan Koki
Cerita anak Agus Triyatno
MINGGU pagi yang cerah, suasana pasar sangat ramai. Banyak sekali orang yang datang, baik yang berjualan maupun para pembeli. Ibu dan Fitri berkeliling mencari barang belanjaan yang diperlukan. Ibu membeli sayuran, bumbu-bumbu, dan beberapa butir telur ayam untuk dimasak di rumah nanti. Keranjang ibu tanpa terasa mulai penuh terisi. Ibu dan Fitri berhenti di depan penjual ikan bandeng. Bandeng adalah ikan kesukaan bapak. Ibu mau membeli ikan bandeng itu. Sedangkan Fitri tampak asyik memperhatikan ikan koki yang dijual pedagang ikan hias. Ikan koki itu menarik perhatiannya. Selain tubuhnya yang gendut berwarna cerah merah dan putih, ekornya yang bersulur dan melambai-lambai membuat Fitri terpesona.
Ibu hendak pergi setelah mendapatkan ikan bandeng untuk bapak. Ia mengira Fitri akan mengikutinya dari belakang. Namun, Fitri belum juga beranjak dari tempat pedagang ikan hias. Lantas ibu menghampiri Fitri dan mengajaknya untuk segera pulang. Fitri menolak. Fitri minta ibu membelikannya sepasang ikan koki untuk dipeliharanya di rumah. Dia tak mau pulang sebelum dibelikan ikan koki itu.
Ibu tak mengabulkan permintaan Fitri. Sambil menarik tangan Fitri, ibu memaksanya untuk segera pulang. Fitri bergeming. Ia tetap tak mau pergi. Fitri malah mulai menangis. Karena kesal, ibu pura-pura meninggalkan Fitri yang menangis sesenggukan. Ibu berharap Fitri akan berbalik mengejarnya. Tapi perkiraan ibu salah. Baru beberapa langkah berjalan, ibu menoleh lagi ke arah Fitri. Ternyata tangis Fitri makin menjadi. Ia meraung-raung sambil duduk di jalanan pasar yang becek dan bau. Pakaian Fitri pun jadi kotor terkena lumpur becek. Akhirnya hati ibu luluh juga.
"Baiklah ibu akan belikan kamu sepasang ikan koki. Tapi, ada syaratnya," kata ibu sambil mengajak Fitri berdiri lalu menyeka air mata anaknya itu. Tangis Fitri pun mereda.
"Apa syaratnya?" tanya Fitri.
"Syaratnya, kamu harus merawatnya dengan baik, memberinya makan, dan tak lupa membersihkan tempatnya secara teratur. Jangan sampai ikan itu mati karena tak terurus. Kamu bersedia?"
"Ya, Fitri bersedia merawatnya," jawab Fitri dengan tegas. Tangis Fitri berhenti. Fitri akhirnya pulang bersama ibu sambil membawa sebuah kantong plastik berisi air dan sepasang ikan koki.
***
DI rumah Fitri tampak gembira sekali. Sepasang ikan koki itu langsung ditaruhnya dalam toples. Lantas segera dibawa ke dalam kamarnya. Sambil berdendang riang ikan koki ditaburi Fitri dengan makanan ikan. Kedua koki pun menyabutnya dengan gesit. Membuka mulutnya di permukaan air dan melahap makanan yang diberi Fitri. Fitri tambah senang. Hampir sepanjang hari Fitri memandangi ikan koki peliharaannya itu. "Wah, lucu sekali gerakanmu, ekormu juga indah!" puji Fitri pada sepasang ikan kokinya.
Tiba-tiba terdengar suara ibu dari ruang tengah: "Fitri, ayo makan dulu! Dari tadi kamu kok mainan ikan koki terus," seru Ibu.
"Eh...iya, Bu. Fitri segera ke sana," sahut Fitri sekenanya.
Fitri pun beranjak ke meja makan di ruang tengah sambil membawa toples ikan kokinya. Toples itu ditaruh di meja makan, tepat di samping piringnya. Selama makan, mata Fitri tetap memandangi ikan koki. Ibu dan bapak hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya itu.
Acara makan pun usai. Lalu terdengar pintu rumah diketuk. Ternyata Fuji yang datang. Fuji adalah teman sebangku Fitri di SD Bunga Matahari. Tanpa buang waktu, Fitri langsung memperlihatkan ikan Koki cantiknya itu kepada Fuji.
"Bagus kan ikan kokiku?" tanya Fitri hendak berbasa-basi.
"Wah, cantik sekali ikanmu," Fuji memandang ikan koki itu dengan takjub. "Tapi melihara ikan koki harus rajin lo!" kata Fuji.
"Ah itu, sih, keciiiil". Aku sudah siapkan semuanya," sergah Fitri sambil memamerkan bungkusan makanan ikan dan toples cadangan. Fuji hanya tersenyum dan mengacungkan jempol kanannya ke wajah Fitri. "Sip, lah!"
***
TAK terasa hari sudah malam. Fuji pun pamit pulang. Fitri mengantarnya ke depan rumah dengan tetap menggendong toples ikan kokinya.
"Jangan lupa memberi makan ikan kokimu ya!"
"Tenang saja, sampai besok!"
Fitri lalu kembali ke dalam rumah. Dia langsung menuju kamarnya bersama ikan kokinya. Toples koki itu ditaruh di meja belajarnya. Dipandanginya terus sampai tak terasa akhirnya Fitri tertidur pulas.
***
SENIN pagi. Sudah hampir jam tujuh. Fitri bangun kesiangan. Padahal dia harus bergegas berangkat ke sekolah untuk upacara bendera. Ibu dan bapak juga kesiangan karena semalam terlalu lama menonton televisi. Setelah mandi dan sarapan pagi, dengan terburu-buru Fitri memberi makan ikan kokinya yang berada di kamarnya.
Sampai di sekolah, Fitri berjumpa dengan Fuji.
"Bagaimana ikan kokimu?"
"Tenang saja, sudah aku kasih makanan. Pokoknya beres deh!" jawab Fitri enteng. Dan dua gadis cilik itu pun bergabung dalam barisan untuk ikut upacara bendera di halaman SD Bunga Matahari.
***
FITRI meraung-raung di kamarnya. Sambil duduk menggelesot di lantai dia menangis sejadi-jadinya. Fuji yang menemaninya sejak pulang sekolah tadi menjadi kebingungan. Fuji hanya bisa mengusap-usap punggung sahabatnya itu. Namun, tangis Fitri makin menjadi. Tak lama, ibu pun segera tiba dari arah dapur.
"Ada apa, Fitri? Kenapa kamu? Fitri kenapa, Fuji?" ibu langsung memberondong pertanyaan.
"Hu hu hu huu...itu Bu, Hu hu hu...!" rengek Fitri sambil menunjuk toples ikan koki kesayangannya.
"Iya, Bu. Ikan kokinya Fitri mati," lanjut Fuji segera. Ibu langsung menghampiri toples ikan koki. Dilihatnya dua ekor ikan itu mengambang di permukaan air. Toples itu penuh sekali dengan makanan ikan.
"Waaaah, ikan ini kebanyakan makanan. Tentunya dia mati kebanyakan makan dan karena air yang kotor oleh makanan yang menumpuk. Lihat saja, permukaan air tertutup oleh makanan ikan. Dia tentu susah juga untuk bernapas," ibu mencoba menjelaskan pada Fitri. Fitri memperhatikan ibunya dengan mata yang basah. Dia menyesal telah memberi makanan berlebihan tadi pagi. Maksud Fitri, tentu supaya ikan itu bisa sekalian makan siang tanpa harus disediakan olehnya. Fitri takut ikan kokinya kelaparan. Namun, kenyataannya malah ikan-ikan itu pada mati.
Fitri menghampiri ibunya. Dia minta maaf tak bisa mengurus ikan kokinya dengan baik. Sambil memeluk anaknya, ibu menjelaskan bahwa suatu kebaikan jika dilakukan secara berlebihan, belum tentu hasilnya akan baik pula.
"Jadi, Ibu enggak marah?" tanya Fitri dengan mata berkaca-kaca.
Sambil menggeleng, ibu tersenyum. Fuji pun tersenyum. Dia terharu melihat Fitri dan ibunya. Lalu mereka bertiga bergegas menguburkan sepasang koki itu di halaman belakang rumah.
Disobek dari Koran Lampung Post Edisi Minggu, 14 Mei 2006
MINGGU pagi yang cerah, suasana pasar sangat ramai. Banyak sekali orang yang datang, baik yang berjualan maupun para pembeli. Ibu dan Fitri berkeliling mencari barang belanjaan yang diperlukan. Ibu membeli sayuran, bumbu-bumbu, dan beberapa butir telur ayam untuk dimasak di rumah nanti. Keranjang ibu tanpa terasa mulai penuh terisi. Ibu dan Fitri berhenti di depan penjual ikan bandeng. Bandeng adalah ikan kesukaan bapak. Ibu mau membeli ikan bandeng itu. Sedangkan Fitri tampak asyik memperhatikan ikan koki yang dijual pedagang ikan hias. Ikan koki itu menarik perhatiannya. Selain tubuhnya yang gendut berwarna cerah merah dan putih, ekornya yang bersulur dan melambai-lambai membuat Fitri terpesona.
Ibu hendak pergi setelah mendapatkan ikan bandeng untuk bapak. Ia mengira Fitri akan mengikutinya dari belakang. Namun, Fitri belum juga beranjak dari tempat pedagang ikan hias. Lantas ibu menghampiri Fitri dan mengajaknya untuk segera pulang. Fitri menolak. Fitri minta ibu membelikannya sepasang ikan koki untuk dipeliharanya di rumah. Dia tak mau pulang sebelum dibelikan ikan koki itu.
Ibu tak mengabulkan permintaan Fitri. Sambil menarik tangan Fitri, ibu memaksanya untuk segera pulang. Fitri bergeming. Ia tetap tak mau pergi. Fitri malah mulai menangis. Karena kesal, ibu pura-pura meninggalkan Fitri yang menangis sesenggukan. Ibu berharap Fitri akan berbalik mengejarnya. Tapi perkiraan ibu salah. Baru beberapa langkah berjalan, ibu menoleh lagi ke arah Fitri. Ternyata tangis Fitri makin menjadi. Ia meraung-raung sambil duduk di jalanan pasar yang becek dan bau. Pakaian Fitri pun jadi kotor terkena lumpur becek. Akhirnya hati ibu luluh juga.
"Baiklah ibu akan belikan kamu sepasang ikan koki. Tapi, ada syaratnya," kata ibu sambil mengajak Fitri berdiri lalu menyeka air mata anaknya itu. Tangis Fitri pun mereda.
"Apa syaratnya?" tanya Fitri.
"Syaratnya, kamu harus merawatnya dengan baik, memberinya makan, dan tak lupa membersihkan tempatnya secara teratur. Jangan sampai ikan itu mati karena tak terurus. Kamu bersedia?"
"Ya, Fitri bersedia merawatnya," jawab Fitri dengan tegas. Tangis Fitri berhenti. Fitri akhirnya pulang bersama ibu sambil membawa sebuah kantong plastik berisi air dan sepasang ikan koki.
***
DI rumah Fitri tampak gembira sekali. Sepasang ikan koki itu langsung ditaruhnya dalam toples. Lantas segera dibawa ke dalam kamarnya. Sambil berdendang riang ikan koki ditaburi Fitri dengan makanan ikan. Kedua koki pun menyabutnya dengan gesit. Membuka mulutnya di permukaan air dan melahap makanan yang diberi Fitri. Fitri tambah senang. Hampir sepanjang hari Fitri memandangi ikan koki peliharaannya itu. "Wah, lucu sekali gerakanmu, ekormu juga indah!" puji Fitri pada sepasang ikan kokinya.
Tiba-tiba terdengar suara ibu dari ruang tengah: "Fitri, ayo makan dulu! Dari tadi kamu kok mainan ikan koki terus," seru Ibu.
"Eh...iya, Bu. Fitri segera ke sana," sahut Fitri sekenanya.
Fitri pun beranjak ke meja makan di ruang tengah sambil membawa toples ikan kokinya. Toples itu ditaruh di meja makan, tepat di samping piringnya. Selama makan, mata Fitri tetap memandangi ikan koki. Ibu dan bapak hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya itu.
Acara makan pun usai. Lalu terdengar pintu rumah diketuk. Ternyata Fuji yang datang. Fuji adalah teman sebangku Fitri di SD Bunga Matahari. Tanpa buang waktu, Fitri langsung memperlihatkan ikan Koki cantiknya itu kepada Fuji.
"Bagus kan ikan kokiku?" tanya Fitri hendak berbasa-basi.
"Wah, cantik sekali ikanmu," Fuji memandang ikan koki itu dengan takjub. "Tapi melihara ikan koki harus rajin lo!" kata Fuji.
"Ah itu, sih, keciiiil". Aku sudah siapkan semuanya," sergah Fitri sambil memamerkan bungkusan makanan ikan dan toples cadangan. Fuji hanya tersenyum dan mengacungkan jempol kanannya ke wajah Fitri. "Sip, lah!"
***
TAK terasa hari sudah malam. Fuji pun pamit pulang. Fitri mengantarnya ke depan rumah dengan tetap menggendong toples ikan kokinya.
"Jangan lupa memberi makan ikan kokimu ya!"
"Tenang saja, sampai besok!"
Fitri lalu kembali ke dalam rumah. Dia langsung menuju kamarnya bersama ikan kokinya. Toples koki itu ditaruh di meja belajarnya. Dipandanginya terus sampai tak terasa akhirnya Fitri tertidur pulas.
***
SENIN pagi. Sudah hampir jam tujuh. Fitri bangun kesiangan. Padahal dia harus bergegas berangkat ke sekolah untuk upacara bendera. Ibu dan bapak juga kesiangan karena semalam terlalu lama menonton televisi. Setelah mandi dan sarapan pagi, dengan terburu-buru Fitri memberi makan ikan kokinya yang berada di kamarnya.
Sampai di sekolah, Fitri berjumpa dengan Fuji.
"Bagaimana ikan kokimu?"
"Tenang saja, sudah aku kasih makanan. Pokoknya beres deh!" jawab Fitri enteng. Dan dua gadis cilik itu pun bergabung dalam barisan untuk ikut upacara bendera di halaman SD Bunga Matahari.
***
FITRI meraung-raung di kamarnya. Sambil duduk menggelesot di lantai dia menangis sejadi-jadinya. Fuji yang menemaninya sejak pulang sekolah tadi menjadi kebingungan. Fuji hanya bisa mengusap-usap punggung sahabatnya itu. Namun, tangis Fitri makin menjadi. Tak lama, ibu pun segera tiba dari arah dapur.
"Ada apa, Fitri? Kenapa kamu? Fitri kenapa, Fuji?" ibu langsung memberondong pertanyaan.
"Hu hu hu huu...itu Bu, Hu hu hu...!" rengek Fitri sambil menunjuk toples ikan koki kesayangannya.
"Iya, Bu. Ikan kokinya Fitri mati," lanjut Fuji segera. Ibu langsung menghampiri toples ikan koki. Dilihatnya dua ekor ikan itu mengambang di permukaan air. Toples itu penuh sekali dengan makanan ikan.
"Waaaah, ikan ini kebanyakan makanan. Tentunya dia mati kebanyakan makan dan karena air yang kotor oleh makanan yang menumpuk. Lihat saja, permukaan air tertutup oleh makanan ikan. Dia tentu susah juga untuk bernapas," ibu mencoba menjelaskan pada Fitri. Fitri memperhatikan ibunya dengan mata yang basah. Dia menyesal telah memberi makanan berlebihan tadi pagi. Maksud Fitri, tentu supaya ikan itu bisa sekalian makan siang tanpa harus disediakan olehnya. Fitri takut ikan kokinya kelaparan. Namun, kenyataannya malah ikan-ikan itu pada mati.
Fitri menghampiri ibunya. Dia minta maaf tak bisa mengurus ikan kokinya dengan baik. Sambil memeluk anaknya, ibu menjelaskan bahwa suatu kebaikan jika dilakukan secara berlebihan, belum tentu hasilnya akan baik pula.
"Jadi, Ibu enggak marah?" tanya Fitri dengan mata berkaca-kaca.
Sambil menggeleng, ibu tersenyum. Fuji pun tersenyum. Dia terharu melihat Fitri dan ibunya. Lalu mereka bertiga bergegas menguburkan sepasang koki itu di halaman belakang rumah.
Disobek dari Koran Lampung Post Edisi Minggu, 14 Mei 2006
Langganan:
Postingan (Atom)
